<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=17988160776302404&amp;blogName=Arsip+Kuliah+Magister+Manajemen+S2&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fs2.wahyudiharto.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Pengaruh Teknologi Informasi dan Komunikasi Terhadap Manajemen Proyek Sistem Informasi

Thursday, October 22, 2009 by Eko Wahyudiharto

Manajemen proyek sistem informasi ditekankan pada tiga faktor, yaitu : manusia, masalah dan proses. Dalam pekerjaan sistem informasi, faktor manusia sangat berperan penting dalam suksesnya manajemen proyek. Pentingnya faktor manusia dinyatakan dalam model kematangan kemampuan manajemen manusia (a people management capability maturity model/PM-CMM) yang berfungsi untuk meningkatkan kesiapan organisasi perangkat lunak (sistem informasi) dalam menyelesaikan masalah.

Organisasi yang dimaksud dalam manajemen proyek sistem informasi adalah sistem yang saling mempengaruhi dan saling bekerja sama antara orang yang satu dengan orang yang lain dalam suatu kelompok untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah disepakati bersama. Organisasi yang merupakan sistem terdiri dari beberapa elemen, salah satunya adalah teknologi.

Untuk mencapai tujuan, organisasi membutuhkan teknologi untuk membantu dalam pengolahan data menjadi suatu informasi. Suatu sistem informasi dapat dikembangkan karena adanya kebijakan dan perencanaan telebih dahulu. Tanpa adanya perencanaan sistem yang baik, pengembangan sistem tidak akan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Tanpa adanya kebijakan pengembangan sistem oleh manajemen puncak, maka pengembangan sistem tidak akan mendapat dukungan dari manajemen puncak tersebut.

Manajemen proyek sistem informasi meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan sumber daya, pembagian tugas, pengontrolan, dan evaluasi tim kerja.

Empat kegiatan pertama tersebut diatas untuk menyelesaikan setiap kegiatan merupakan bagian yang paling sulit, untuk itu butuh pengalaman dalam memperkirakan waktu yang diperlukan. Penjadwalan tugas-tugas (kegiatan) dapat menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi, antara lain:
1. Grafik Gantt
Merupakan suatu grafik dimana ditampilkan kotak-kotak yang mewakili setiap tugas (kegiatan) dan panjang masing-masing setiap kotak menunjukkan panjang relatif tugas-tugas yang dikerjakan.
2. Diagram PERT (Program Evaluation and Review Techniques)
Suatu program (proyek) diwakili dengan jaringan simpul dan tanda panah yang kemudian dievaluasi untuk menentukan kegiatan-kegiatan terpenting, meningkatkan jadwal yang diperlukan dan merevisi kemajuan-kemajuan saat proyek telah dijalankan.
3. Penjadwalan proyek berbasis komputer menggunakan PC untuk membuat jadwal proyek lebih praktis dan menguntungkan.
Contoh program penjadwalan yaitu Ms Project, Symantec’s Timeline dan Computer Associates’ CA-Super Project.

Labels:

Usang pada Sistem Perangkat Lunak?

Tuesday, October 20, 2009 by Eko Wahyudiharto

Salah satu karakteristik perangkat lunak adalah bahwa perangkat lunak tidak pernah usang. Perangkat lunak tidak pernah usang (wear out) namun memburuk (deteriorate). Perangkat lunak tidak pernah usang karena adanya perawatan memungkinkan pengembangan perangkat lunak untuk menyesuaikan dengan kebutuhan baru. Namun sekali perangkat lunak rusak, maka tidak dapat diganti dengan perangkat lunak lain, namun harus dilakukan pembuatan ulang karena tidak ada suku cadang dalam perangkat lunak (berbeda dengan hardware).

Pada lingkungan dunia nyata, kerusakan pada perangkat lunak dapat dicegah melalui unsur pemeliharaan (maintenance). Perangkat lunak memerlukan review secara berkala untuk mengetahui perubahan yang dinamis terhadap kebutuhan organisasi. Salah satu fokus pemeliharaan perangkat lunak adalah menilai pentingnya pengelolaan informasi yakni dengan cara membuang informasi usang dengan informasi yang mutakhir dan akurat.

Para manajer/pimpinan memberikan perhatian yang semakin besar pada pengelolaan informasi karena dua alasan utama, yaitu:
1. Kompleksitas kegiatan bisnis yang meningkat
2. Kemampuan komputer yang semakin baik, ukuran komputer semakin kecil, namun kecepatannya semakin tinggi.

Oleh karenanya, konsep sistem informasi manajemen menyadari bahwa aplikasi komputer harus diterapkan untuk tujuan utama menghasilkan informasi yang seakurat mungkin bagi manajemen dalam mengambil keputusan.

Dengan demikian, pada dasarnya tidak ada sistem informasi yang sempurna untuk masa yang tak terhingga. Adanya keperluan-keperluan baru, pertumbuhan organisasi/usaha, perkembangan teknologi, dan pengaruh luar lain, mengharuskan adanya usaha pengembangan sistem informasi baru untuk mengimbangi dinamika organisasi dimana sistem informasi yang ditetapkan. Kenyataan ini mengakibatkan setiap sistem perlu diubah pada masa selanjutnya. Proses pengembangan sistem informasi melewati beberapa tahapan mulai sistem itu direncanakan sampai diimplementasikan, hingga suatu saat perlu dikembangkan kembali menjadi sistem yang baru. Daur hidup demikian merupakan suatu siklus pengembangan sistem informasi.

Labels:

Model Proses Perangkat Lunak yang Paling Efektif

by Eko Wahyudiharto

Menurut saya, metodologi kerja yang paling efektif yang dapat digunakan dalam pengembangan aplikasi perangkat lunak adalah RUP (Rational Unified Process). RUP termasuk dalam metodologi berorientasi obyek sehingga dalam implementasinya pun diarahkan pada pemograman berorientasi obyek (Object Oriented Programming/OOP).

Keunggulan metodologi kerja berorientasi obyek dibandingkan dengan metodologi prosedural yang banyak dipakai di era sebelumnya adalah setiap kegiatan yang termasuk di dalamnya dapat dilakukan secara paralel.

Sehingga dapat mempersingkat waktu dan menghemat sumber daya yang ada dibandingkan dengan metodologi berorientasi prosedural yang menuntut diselesaikannya dengan baik dari setiap tahapan kegiatan.

Jika kemudian terdapat kekurangan/kesalahan di fase sebelumnya maka kemungkinan besar harus diulang dari awal dalam proses pekerjaannya.

Sedangkan dalam metodologi berorientasi obyek, setiap tahapan pekerjaan dapat dilaksanakan dan dievaluasi kapanpun secara paralel.

Dalam RUP, pengembangan perangkat lunak dibagi ke dalam 4 tahapan yang memiliki fokus yang erbeda-beda. Empat tahapan Metodologi RUP adalah sebagai berikut:
1. Insepsi: Melakukan pengumpulan data, menetapkan ruang lingkup, serta analisis dan desain awal.
2. Elaborasi: Melakukan penjabaran analisa kebutuhan dan menetapkan arsitektur serta kerangka aplikasi. Analisa dan desain sistem mulai dilakukan.
3. Konstruksi: Melakukan analisa dan desain teknis diikuti dengan pengkodean ke dalam kode sumber aplikasi.
4. Transisi: Melakukan transisi dari pengembangan dan testing menuju penggunaan sesungguhnya, meliputi pemaketan, instalasi, uji coba oleh pengguna, pelatihan, konversi data, dan konfigurasi akhir.

Dimana di dalam setiap fase ini ada beberapa bidang kegiatan yang akan berlangsung secara paralel yang terdiri atas:
1. Business modeling: mendokumentasikan proses bisnis, yaitu cara kerja pengguna dalam memanfaatkan aplikasi ini (baik tanpa aplikasi maupun cara kerja yang diinginkan dengan menggunakan aplikasi).
2. Requirements: mendeskripsikan secara detil apa yang akan dilakukan oleh aplikasi, hal ini dilakukan dengan penyusunan dokumen use-case dan business rules.
3. Analysis and Design: mendeskripsikan solusi teknis yang akan digunakan untuk mencapai perilaku yang sudah ditetapkan dalam kegiatan requirement. Desain di sini meliputi desain alur, desain interaksi, desain visual, dan desain teknis.
4. Implementation: merealisasikan desain ke dalam kode komputer yang dapat dieksekusi oleh komputer.
5. Test: melakukan uji coba untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul. Uji coba terdiri dari dua jenis, yaitu uji coba proses yang dilakukan secara otomatis oleh software dan uji coba antar muka yang dilakukan oleh tester.
6. Deployment: melakukan pemaketan, instalasi, konversi data, konfigurasi aplikasi.
7. Configuration and Change Management: pengelolaan dokumentasi, kode, dan aplikasi yang dihasilkan dalam pengerjaan proyek terutama berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi.
8. Project management: meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan sumber daya, pembagian tugas, pengontrolan, dan evaluasi tim kerja.
9. Environment: pengelolaan alat, sarana, prosedur, guidelines yang diperlukan pada saat pengembangan.

Labels:

Masih Relevankah Sertifikasi Profesi Bagi Perekayasa Perangkat Lunak?

Monday, October 19, 2009 by Eko Wahyudiharto

Bagi mereka yang mengikuti trend sertifikasi di dunia IT, maka pasti mengikuti suatu trend yang sangat menarik untuk dibahas. Trend tersebut adalah semakin membaurnya bidang-bidang fungsional di dalam perusahaan dan batas-batasnya menjadi semakin kabur. Dahulu orang beranggapan bahwa kegiatan business application development terpisah dengan project management, terpisah dengan programmer, terpisah dengan bagian debugger, dan sebagainya. Kondisi seperti itu disebut vertical enterprise, di mana bidang-bidang fungsional yang terdiri dari business application development, project management, programmer, serta debugger menjadi pilar-pilar yang berdiri sendiri-sendiri di dalam dunia IT.

Tetapi saat ini ternyata anggapan tersebut mulai pudar secara perlahan. Dalam kegiatan business application development, ada aspek project management, yaitu perencanaan penjadwalan proyek pengembangan software, mengefisienkan waktu software requirement dari business analyst dan sebagainya. Demikian pula dengan programmer dan debugger, di mana kegiatan teknis rekayasa perangkat lunak saat ini dapat dianggap sebagai suatu kesatuan, bukan lagi hal yang terpisah. Nah, dengan demikian, terlihat jelas bagaimana bidang-bidang fungsional ternyata semakin membaur, batas-batasnya semakin tipis, bahkan banyak sekali kegiatannya yang tumpang-tindih.

Perkembangan seperti ini melahirkan konsep yang disebut dengan process enterprise, seperti yang diungkapkan oleh Michael Hammer dan Steven Stanton dalam artikel mereka “How Process Enterprises Really Work” pada Harvard Business Review edisi November – Desember 1999. Konsep process enterprise betul-betul mengubah cara pandang mengenai perusahaan, dari pilar-pilar fungsional yang terpisah, menjadi proses-proses yang lintas bidang fungsional.

Pada konsep ini, IT memegang peranan yang sangat penting. Secara tegas Hammer dan Stanton mengatakan, “No longer do executives see their organizations as sets of discrete units with with well-defined boundaries. Instead, they see them as flexible groupings of intertwined work and information floews that cut horizontally across the business, ending at the points of contact with customers”.

Pada kondisi ini, dunia bisnis mulai mempertanyakan, masih relevankah jabatan-jabatan fungsional yang ada saat ini seperti programmer, debugger, dan sebagainya ? Bukankah trend yang terjadi sekarang menuju ke process enterprise ? Pertanyaan yang menggelitik tentu adalah, “Masih perlukah sertifikasi profesi bagi perekayasa perangkat lunak ?”

Trend ini semakin diperkuat dengan artikel pada Harvard Business Review edisi Maret – April 2000, yang berjudul “Are CIOs Obsolete ?”. Artikel ini merupakan rangkuman pendapat dari enam orang komentator, yaitu Dawn Lepore (CIO Charles Schwab), Jack Rockart (dosen MIT), Michael J. Earl (profesor London Business School), Tom Thomas (CEO Vantine, mantan CIO Dell, mantan CIO Kraft, mantan CIO 3Com), Peter McAteer dan Jeffrey Elton (Giga Information Group, mereka berdua telah mewawancarai ratusan CIO). Artikel ini dibuka dengan kalimat yang provokatif, “Are information technology and strategy now so much a part of each other that all senior managers are – or should be – “information officers” ? If so, has the position of CIO outlived its usefulness ?”.

Keenam pakar pada artikel tersebut, serta artikel yang ditulis oleh Michael Hammer dan Steven Stanton menyimpulkan beberapa hal. Pertama, paradigma mengenai perekayasa perangkat lunak memang sedang berubah, dan memang harus berubah, yaitu dari berkutat seputar permasalahan teknis pembangunan software semata, menjadi meluas ke strategi rekayasanya, dan seorang perekayasa perangkat lunak juga bagian dari pembuat keputusan stratejik tim pembangun. Tugas seorang perekayasa perangkat lunak tetap berkaitan dengan teknis teknologi informasi, tetapi dia adalah seorang strategis. Kedua, perubahan tersebut terjadi akibat trend dalam manajemen dan bisnis, dari vertical enterprise menuju process enterprise yang membuat semua bidang fungsional membaur, sehingga seorang perekayasa perangkat lunak juga harus mampu berbicara dalam “bahasa strategi”, dan tidak hanya “bahasa teknis”. Pada process enterprise, semua pihak di masing-masing bidang fungsional sudah membaur, tidak terpisah satu dengan yang lain sama sekali, walaupun masing-masing memiliki fokus perhatian yang berbeda. Dengan demikian, perekayasa perangkat lunak juga dituntut untuk memiliki pemahaman mengenai bisnis dan strategi. Ketiga, jika seorang perekayasa perangkat lunak tidak mampu mengikuti kondisi tersebut, maka dia menjadi tertinggal (obsolete), dan tidak relevan lagi untuk kondisi bisnis saat ini, apalagi di masa mendatang. Perekayasa perangkat lunak seperti inilah yang disebut dengan obselete pada judul artikel di Harvard Business Review tersebut.

Perekayasa perangkat lunak yang bersifat konvergen ini dapat dihasilkan melalui sertifikasi IT professional semisal CISA (Certified Information Systems Auditor) dari ISACA (Information Systems Audit and Control Association), sebuah standar internasional dalam pemenuhan kualifikasi IT professional. Sertifikasi ini tidak hanya didapat dari ujian sertifikasi CISA saja, namun juga harus mengikuti persyaratan lainnya yaitu bukti pengalaman kerja selama 5 (lima) tahun di bidang yang terkait dan tetap memenuhi kuota CPE (Continuing Professional Education) serta iuran tahunan tertentu.

Sertifikasi CISA mencakup 7 (tujuh) knowledge area meliputi antara lain:
1. Management, Planning, and Organization of IS
2. Technical Infrastructure and Operational Practices
3. Protection of Information Assets
4. Disaster Recovery and Business Continuity
5. Business Application System Development, Acquisition, Implementation, and Maintenance
6. Business Process Evaluation and Risk Management
7. The IS Audit Process

Dari sertifikasi ini, ada satu benang merah yang bisa ditarik, bahwa pengetahuan yg dibutuhkan adalah dari sudut pandang teknis dan strategis -- bukan dari sudut pandang pelaksana. Kalau perekayasa perangkat lunak telah terbiasa menjadi pelaksana (apakah itu sebagai system administrator, developer, system architect, dan lainnya), maka perlu mengubah perspektif dan mencoba melihat diri perekayasa perangkat lunak tersebut dari sudut pandang teknis dan strategis.

Pada akhir jawaban ini, dapat disimpulkan bahwa perekayasa perangkat lunak harus disertifikasi untuk level-level tertentu, guna menghasilkan standar mutu perekayasa perangkat lunak yang memenuhi kualitas teknis dan strategis yang optimal. Peran seorang perekayasa perangkat lunak pada aspek teknis bisa saja dipindahkan ke bidang lain di dalam dunia IT, seperti teori process enterprise yang diungkapkan oleh Michael Hammer dan Michael Stanton dalam artikel mereka “How Process Enterprise Really Work”, tetapi aspek stratejiknya tetap tidak bisa dialihkan, karena akan menimbulkan ketidakefisienan.

Labels:

Perbandingan Antara Biaya Generic Product vs Customized Product

Sunday, October 18, 2009 by Eko Wahyudiharto

Tingginya biaya pengujian sistem produk perangkat lunak generik (generic product) dikarenakan hal-hal sebagai berikut:
1. Waktu implementasi relatif lebih lama, dengan timeframe koordinasi antar kegiatan, pendefinisian persyaratan, terutama pada saat tahap pengembangan dan uji coba integrasi/interoperability yang sangat dibutuhkan untuk menguji kehandalan sistem karena akan banyak proses evaluasi, uji trial & error, perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.
2. Usaha yang sangat besar, karena mengerjakan tipikal aplikasi umum adalah pekerjaan yang sangat besar dan sulit serta membutuhkan sumber daya dalam jumlah yang besar pula.
3. Memakan banyak resource SDM yang kompeten khususnya di bidang IT, untuk terlibat dalam tim mulai dari perancangan, pengembangan, implementasi, sampai dengan pemeliharaan.
4. Membutuhkan komitmen dan dukungan manajemen terhadap kebijakan organisasi, karena opsi pengembangan produk perangkat lunak generik (generic product) ini mempunyai resiko yang sangat besar bila tidak berhasil maka target rencana perusahaan mengenai kelengkapan fasilitas aplikasi IT untuk operasional dan pemeliharan tidak akan tercapai tepat waktu (mempengaruhi daya kompetitif perusahaan).

Sebaliknya, biaya pengujian pada produk pesanan (customized product), karena hal-hal sebagai berikut:
1. Waktu pengujian relatif lebih cepat, karena modul function aplikasi dibuat secara parsial.
2. Dengan adanya contract specification agreements (interface definitions) yang sudah terstandarisasi dengan jelas akan mempercepat proses testing integrasi dan sangat membantu dalam plug and play operation.
3. Secara dinamis dapat melakukan perubahan proses bisnis dengan adanya pemanfaatan external workflow engine, hal ini juga dikaitkan dengan adanya kebutuhan untuk merubah regulasi dan policy terhadap aplikasi sehingga sistem dapat lebih mudah dan cepat untuk direkonfigurasi.
4. Kehandalan sistem sudah teruji dengan skala implementasi kecil yang parsial, yang tentunya dengan persyaratan adanya proses seleksi ketat terhadap kualitas function yang diciptakan.
5. Efisien dalam pemanfaatan resource SDM, pengguna hanya dikonsentrasikan/ fokus untuk pengujian produk saja.
6. Resiko proyek lebih kecil dari sisi konsumen, karena adanya risk sharing/mitigation dengan pihak pembangun yang lebih kompeten dan berpengalaman di bidangnya yaitu system integrator.

Labels:

about


A little something about me, the author. Nothing lengthy, just an overview.

Also a link to my profile may show up here.

Dominant Traits Johari Window

66% of people think that Eko Wahyudiharto is clever
66% of people think that Eko Wahyudiharto is friendly
66% of people agree that Eko Wahyudiharto is idealistic

All Percentages

able (0%) accepting (0%) adaptable (0%) bold (0%) brave (0%) calm (33%) caring (0%) cheerful (0%) clever (66%) complex (0%) confident (0%) dependable (0%) dignified (0%) energetic (0%) extroverted (0%) friendly (66%) giving (0%) happy (0%) helpful (0%) idealistic (66%) independent (33%) ingenious (0%) intelligent (33%) introverted (0%) kind (33%) knowledgeable (33%) logical (33%) loving (33%) mature (0%) modest (0%) nervous (0%) observant (0%) organised (0%) patient (33%) powerful (0%) proud (0%) quiet (0%) reflective (0%) relaxed (0%) religious (0%) responsive (33%) searching (0%) self-assertive (0%) self-conscious (0%) sensible (33%) sentimental (0%) shy (33%) silly (0%) spontaneous (0%) sympathetic (0%) tense (0%) trustworthy (0%) warm (0%) wise (0%) witty (0%)

search

recent posts

recent comments

labels

archives

links

statistic

admin