<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=17988160776302404&amp;blogName=Arsip+Kuliah+Magister+Manajemen+S2&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fs2.wahyudiharto.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Masih Relevankah Sertifikasi Profesi Bagi Perekayasa Perangkat Lunak?

Bagi mereka yang mengikuti trend sertifikasi di dunia IT, maka pasti mengikuti suatu trend yang sangat menarik untuk dibahas. Trend tersebut adalah semakin membaurnya bidang-bidang fungsional di dalam perusahaan dan batas-batasnya menjadi semakin kabur. Dahulu orang beranggapan bahwa kegiatan business application development terpisah dengan project management, terpisah dengan programmer, terpisah dengan bagian debugger, dan sebagainya. Kondisi seperti itu disebut vertical enterprise, di mana bidang-bidang fungsional yang terdiri dari business application development, project management, programmer, serta debugger menjadi pilar-pilar yang berdiri sendiri-sendiri di dalam dunia IT.

Tetapi saat ini ternyata anggapan tersebut mulai pudar secara perlahan. Dalam kegiatan business application development, ada aspek project management, yaitu perencanaan penjadwalan proyek pengembangan software, mengefisienkan waktu software requirement dari business analyst dan sebagainya. Demikian pula dengan programmer dan debugger, di mana kegiatan teknis rekayasa perangkat lunak saat ini dapat dianggap sebagai suatu kesatuan, bukan lagi hal yang terpisah. Nah, dengan demikian, terlihat jelas bagaimana bidang-bidang fungsional ternyata semakin membaur, batas-batasnya semakin tipis, bahkan banyak sekali kegiatannya yang tumpang-tindih.

Perkembangan seperti ini melahirkan konsep yang disebut dengan process enterprise, seperti yang diungkapkan oleh Michael Hammer dan Steven Stanton dalam artikel mereka “How Process Enterprises Really Work” pada Harvard Business Review edisi November – Desember 1999. Konsep process enterprise betul-betul mengubah cara pandang mengenai perusahaan, dari pilar-pilar fungsional yang terpisah, menjadi proses-proses yang lintas bidang fungsional.

Pada konsep ini, IT memegang peranan yang sangat penting. Secara tegas Hammer dan Stanton mengatakan, “No longer do executives see their organizations as sets of discrete units with with well-defined boundaries. Instead, they see them as flexible groupings of intertwined work and information floews that cut horizontally across the business, ending at the points of contact with customers”.

Pada kondisi ini, dunia bisnis mulai mempertanyakan, masih relevankah jabatan-jabatan fungsional yang ada saat ini seperti programmer, debugger, dan sebagainya ? Bukankah trend yang terjadi sekarang menuju ke process enterprise ? Pertanyaan yang menggelitik tentu adalah, “Masih perlukah sertifikasi profesi bagi perekayasa perangkat lunak ?”

Trend ini semakin diperkuat dengan artikel pada Harvard Business Review edisi Maret – April 2000, yang berjudul “Are CIOs Obsolete ?”. Artikel ini merupakan rangkuman pendapat dari enam orang komentator, yaitu Dawn Lepore (CIO Charles Schwab), Jack Rockart (dosen MIT), Michael J. Earl (profesor London Business School), Tom Thomas (CEO Vantine, mantan CIO Dell, mantan CIO Kraft, mantan CIO 3Com), Peter McAteer dan Jeffrey Elton (Giga Information Group, mereka berdua telah mewawancarai ratusan CIO). Artikel ini dibuka dengan kalimat yang provokatif, “Are information technology and strategy now so much a part of each other that all senior managers are – or should be – “information officers” ? If so, has the position of CIO outlived its usefulness ?”.

Keenam pakar pada artikel tersebut, serta artikel yang ditulis oleh Michael Hammer dan Steven Stanton menyimpulkan beberapa hal. Pertama, paradigma mengenai perekayasa perangkat lunak memang sedang berubah, dan memang harus berubah, yaitu dari berkutat seputar permasalahan teknis pembangunan software semata, menjadi meluas ke strategi rekayasanya, dan seorang perekayasa perangkat lunak juga bagian dari pembuat keputusan stratejik tim pembangun. Tugas seorang perekayasa perangkat lunak tetap berkaitan dengan teknis teknologi informasi, tetapi dia adalah seorang strategis. Kedua, perubahan tersebut terjadi akibat trend dalam manajemen dan bisnis, dari vertical enterprise menuju process enterprise yang membuat semua bidang fungsional membaur, sehingga seorang perekayasa perangkat lunak juga harus mampu berbicara dalam “bahasa strategi”, dan tidak hanya “bahasa teknis”. Pada process enterprise, semua pihak di masing-masing bidang fungsional sudah membaur, tidak terpisah satu dengan yang lain sama sekali, walaupun masing-masing memiliki fokus perhatian yang berbeda. Dengan demikian, perekayasa perangkat lunak juga dituntut untuk memiliki pemahaman mengenai bisnis dan strategi. Ketiga, jika seorang perekayasa perangkat lunak tidak mampu mengikuti kondisi tersebut, maka dia menjadi tertinggal (obsolete), dan tidak relevan lagi untuk kondisi bisnis saat ini, apalagi di masa mendatang. Perekayasa perangkat lunak seperti inilah yang disebut dengan obselete pada judul artikel di Harvard Business Review tersebut.

Perekayasa perangkat lunak yang bersifat konvergen ini dapat dihasilkan melalui sertifikasi IT professional semisal CISA (Certified Information Systems Auditor) dari ISACA (Information Systems Audit and Control Association), sebuah standar internasional dalam pemenuhan kualifikasi IT professional. Sertifikasi ini tidak hanya didapat dari ujian sertifikasi CISA saja, namun juga harus mengikuti persyaratan lainnya yaitu bukti pengalaman kerja selama 5 (lima) tahun di bidang yang terkait dan tetap memenuhi kuota CPE (Continuing Professional Education) serta iuran tahunan tertentu.

Sertifikasi CISA mencakup 7 (tujuh) knowledge area meliputi antara lain:
1. Management, Planning, and Organization of IS
2. Technical Infrastructure and Operational Practices
3. Protection of Information Assets
4. Disaster Recovery and Business Continuity
5. Business Application System Development, Acquisition, Implementation, and Maintenance
6. Business Process Evaluation and Risk Management
7. The IS Audit Process

Dari sertifikasi ini, ada satu benang merah yang bisa ditarik, bahwa pengetahuan yg dibutuhkan adalah dari sudut pandang teknis dan strategis -- bukan dari sudut pandang pelaksana. Kalau perekayasa perangkat lunak telah terbiasa menjadi pelaksana (apakah itu sebagai system administrator, developer, system architect, dan lainnya), maka perlu mengubah perspektif dan mencoba melihat diri perekayasa perangkat lunak tersebut dari sudut pandang teknis dan strategis.

Pada akhir jawaban ini, dapat disimpulkan bahwa perekayasa perangkat lunak harus disertifikasi untuk level-level tertentu, guna menghasilkan standar mutu perekayasa perangkat lunak yang memenuhi kualitas teknis dan strategis yang optimal. Peran seorang perekayasa perangkat lunak pada aspek teknis bisa saja dipindahkan ke bidang lain di dalam dunia IT, seperti teori process enterprise yang diungkapkan oleh Michael Hammer dan Michael Stanton dalam artikel mereka “How Process Enterprise Really Work”, tetapi aspek stratejiknya tetap tidak bisa dialihkan, karena akan menimbulkan ketidakefisienan.

Labels:

“Masih Relevankah Sertifikasi Profesi Bagi Perekayasa Perangkat Lunak?”

about


A little something about me, the author. Nothing lengthy, just an overview.

Also a link to my profile may show up here.

Dominant Traits Johari Window

66% of people think that Eko Wahyudiharto is clever
66% of people think that Eko Wahyudiharto is friendly
66% of people agree that Eko Wahyudiharto is idealistic

All Percentages

able (0%) accepting (0%) adaptable (0%) bold (0%) brave (0%) calm (33%) caring (0%) cheerful (0%) clever (66%) complex (0%) confident (0%) dependable (0%) dignified (0%) energetic (0%) extroverted (0%) friendly (66%) giving (0%) happy (0%) helpful (0%) idealistic (66%) independent (33%) ingenious (0%) intelligent (33%) introverted (0%) kind (33%) knowledgeable (33%) logical (33%) loving (33%) mature (0%) modest (0%) nervous (0%) observant (0%) organised (0%) patient (33%) powerful (0%) proud (0%) quiet (0%) reflective (0%) relaxed (0%) religious (0%) responsive (33%) searching (0%) self-assertive (0%) self-conscious (0%) sensible (33%) sentimental (0%) shy (33%) silly (0%) spontaneous (0%) sympathetic (0%) tense (0%) trustworthy (0%) warm (0%) wise (0%) witty (0%)

search

recent posts

recent comments

labels

archives

links

statistic

admin