<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=17988160776302404&amp;blogName=Arsip+Kuliah+Magister+Manajemen+S2&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fs2.wahyudiharto.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Pemanfaatan Kapasitas Pabrik dan Penentuan Harga Produk yang Optimum

Salah satu alasan penting bagi perusahaan untuk menghasilkan lebih dari satu jenis produk adalah agar bisa lebih memanfaatkan kapasitas pabrik dan kapasitas produksinya. Sebuah perusahaan yang memiliki kapasitas berlebih (setelah menghasilkan sebuah jenis produk pada tingkat output terbaiknya) bisa mencari produk lain untuk dihasilkan sehingga bisa lebih maksimum (tidak harus berarti 100%) memanfaatkan kapasitas pabrik dan kapasitas produksinya. Sepanjang pendapatan marginal dari produk-produk ini lebih tinggi dari biaya marginalnya, laba perusahaan akan meningkat. Jadi, ketimbang menghasilkan sebuah produk tunggal pada titik dimana MR = MC dan menyisakan banyak kapasitas berlebih, perusahaan akan memperkenalkan produk baru (atau berbagai variasi dari produk yang ada), sesuai dengan urutan tingkat laba yang dihasilkannya, sampai di mana pendapatan marginal dan biaya marginal dari unit terakhir dari produk yang paling kecil labanya mencapai nilai yang sama. Kemudian harga dari setiap produk akan ditentukan berdasarkan masing-masing kurva permintaannya. Proses ini ditunjukkan dalam gambar di bawah ini.



Gambar di atas menunjukkan sebuah perusahaan yang menjual tiga buah produk (A,B dan C) dengan masing-masing kurva permintaannya yaitu DA, DB, dan DC, dan kurva pendapatan marginal MRA, MRB, dan MRC. Perusahaan memaksimumkan laba ketika dia menghasilkan masing-masing produk pada saat MRA = MRB = MRC = MC. Hal ini ditunjukkan oleh titik EA, EB dan EC, yaitu ketika garis equal-marginal-revenue (EMR) yang berada pada tingkat MRC = MC memotong kurva MRA, MRB dan MRC. Jadi, agar dapat memaksimumkan laba, perusahaan harus menghasilkan 60 unit produk A dan menjual pada tingkat harga PA = $16 pada kurva DA (lihat gambar diatas); 90 unit produk B (jarak horizontal antara titik EB dan EA, atau 150 - 160) dan menjual pada PB = $15 pada kurva DB; dan 180 unit produk C (dari 330 - 150) dan menjualnya pada PC = $14 pada kurva DC. Perhatikan bahwa semakin ke kanan kurva permintaan setiap produk semakin elastis dan bahwa harga dari setiap produk semakin rendah, sementara biaya marginalnya semakin meningkat (sehingga laba per unit semakin berkurang).

Beberapa hal harus diperhatikan sehubungan dengan analisis di atas dan gambar diatas:

1. Akan menguntungkan bagi perusahaan untuk terus memasukan produk baru lainnya hingga didapatkan produk terakhir yang harganya sama dengan biaya marginalnya (sehingga perusahaan tersebut akan menjadi perusahaan bersaing yang sempurna dalam pasar bagi produk ini), atau kapasitas produksi perusahaan telah mencapai maksimum.

2. Diasumsikan bahwa fasilitas produksi perusahaan bisa dengan mudah disesuaikan untuk menghasilkan produk lain dan kurva biaya perusahaan mencerminkan kenaikan biaya akibat tambahan produk baru.

3. Gambar diatas mengasumsikan bahwa kurva permintaan dari setiap produk yang dijual oleh perusahaan bersifat independen dan tidak terkait satu sama lain, atau bahwa figur tersebut menunjukkan dampak total dan final dari semua saling keterkaitan antar permintaan.

4. Sebuah perusahaan mungkin menghasilkan sebuah produk yang tidak akan memberikan laba atau hanya sedikit memberikan laba agar dapat memasok serangkaian produk yang lengkap, untuk menjadikannya sebagai "loss leader" (artinya, memikat pelanggan), atau untuk mempertahankan kesetiaan pelanggan, menjaga agar saluran distribusi bisa tetap terbuka, atau untuk memanfaatkan sumber daya perusahaan sementara menunggu kesempatan yang lebih menguntungkan (seperti dalam kasus perusahaan konstruksi). Ini terkait dengan poin #1. Sebagai contoh, berbagai pasar swalayan memperoleh margin laba yang sangat kecil dari barang kebutuhan sehari-hari (sabun, deterjen, kopi, soda, kentang, dan lain-lain), yang memiliki permintaan yang sangat elastis dan iklannya sangat gencar, serta memperoleh lebih banyak laba dari produk-produk khusus, yaitu yang sering dibeli secara implusif dan harga pasarnya belum banyak diketahui pelanggan.

Jadi, alasan penting bagi perusahaan untuk menghasilkan lebih dari satu jenis produk adalah agar bisa lebih memanfaatkan kapasitas pabrik dan kapasitas produksinya sehingga dapat ditentukan harga produk yang optimum.

Dalam persaingan sempurna, pasar menentukan harga dimana perusahaan menjual produknya. Perusahaan akan memilih jumlah output yang akan memaksimumkan labanya. Pada tingkat output inilah p=MC (harga berimbang dengan biaya marginal). Apabila perusahaan memaksimalkan labanya, ia tidak akan terdorong untuk merubah outputnya.

Dari gambar diatas, kurva permintaan bagi komoditas yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut menurun dari kiri atas ke kanan bawah. Dalam hal ini, perusahaan akan memperoleh harga jual yang tinggi bila produksinya sedikit, dan harga yang semakin rendah bila produksinya semakin banyak.

Pada gambar diatas, besarnya laba adalah selisih antara penerimaan total (TR) dengan biaya total (TC), yaitu:

TR = P X Q
TR = (OPA X OQA) + (OPB X OQB) + (OPC X OQC)
TR = (16 X 60) + (15 X 150) + (14 X 330)
TR = 960 + 2250 + 4620 = 7830


TC = C X Q
TC = (OC X OQA) + (OC X OQB) + (OC X OQC)
TC = (12 X 60) + (12 X 150) + (12 X 330)
TC = 720 + 1800 + 3960 = 6480


Jadi, laba bersih yang diperoleh perusahaan sebesar 7830 – 6480 = 1350
Dengan perincian laba bersih sebesar untuk masing-masing produk:
Produk A sebesar OPAOQA - OCOQA = (CPA - OC) X OQA
= (16 - 12) X 60 = 240
Produk B sebesar OPBOQB - OCOQB = (CPB - OC) X OQB
= (15 - 12) X 150 = 450
Produk C sebesar OPCOQC - OCOQC = (CPC - OC) X OQC
= (14 - 12) X 330 = 660
1350


Dengan memahami analisis yang ada, maka dimungkinkan sekali orang mempunyai pandangan yang salah mengenai tingkah laku perusahaan, yaitu:

1. Bahwa perusahaan memperoleh keuntungan dengan adanya kenaikan harga. Perusahaan, paling sedikit harus memperoleh hasil investasi yang normal (Normal Return On Investment) dalam jangka panjang. Tetapi dalam jangka pendek, ia pasti dapat menderita kerugian asal saja ia dapat menutup biaya variabel maka ia dapat melanjutkan usahanya.

2. Bahwa kenaikan harga akan selalu menguntungkan perusahaan.
Kita asumsikan bahwa perusahaan berusaha memaksimumkan laba. Oleh sebab itu, jika perusahaan menaikkan harga, maka penerimaan totalnya akan menurun. Hal ini terjadi karena untuk memaksimumkan laba, maka MR harus sama dengan MC. Biaya marjinal (MC) harus selalu positif, sebab biaya marjinal itu merupakan perubahan dalam biaya total, dan biaya total akan selalu naik jika output diperluas. Penerimaan marjinal yang positif berarti menunjukkan bahwa permintaannya bersifat elastis, maka kenaikan harga akan menyebabkan turunnya penerimaan total. Pandangan yang salah bahwa kenaikan harga selalu menguntungkan perusahaan adalah jika permintaan yang dihadapi perusahaan bersifat inelastisitas sempurna.

3. Pandangan yang salah mengenai perusahaan adalah bahwa ia akan memproduksi pada tingkat output yang maksimal dalam ukuran pabrik yang optimum.
Dalam jangka panjang, perusahaan tidak perlu mendapat laba murni, tetapi hanya hasil investasi normal (Normal Return On Investment). Agar perusahaan mencapai laba maksimum dalam jangka panjang, maka ia harus memproduksi output dengan menyamakan antara MR dan LRMC, kemudian ia menyesuaikan ukuran pabriknya. Maka harga jual di pasar dapat ditentukan.

Keputusan mengenai harga dan output dalam perusahaan diambil dengan cara memaksimumkan perbedaan antara pendapatan total (TR) dan biaya total (TC) dalam jangka panjang, asal saja perbedaaan itu lebih besar dari atau sama dengan nol. Begitu juga dalam jangka pendek, perusahaan sekali lagi ingin memaksimumkan perbedaan itu, asal saja biaya variabel dapat ditutup.

Labels:

“Pemanfaatan Kapasitas Pabrik dan Penentuan Harga Produk yang Optimum”

about


A little something about me, the author. Nothing lengthy, just an overview.

Also a link to my profile may show up here.

Dominant Traits Johari Window

66% of people think that Eko Wahyudiharto is clever
66% of people think that Eko Wahyudiharto is friendly
66% of people agree that Eko Wahyudiharto is idealistic

All Percentages

able (0%) accepting (0%) adaptable (0%) bold (0%) brave (0%) calm (33%) caring (0%) cheerful (0%) clever (66%) complex (0%) confident (0%) dependable (0%) dignified (0%) energetic (0%) extroverted (0%) friendly (66%) giving (0%) happy (0%) helpful (0%) idealistic (66%) independent (33%) ingenious (0%) intelligent (33%) introverted (0%) kind (33%) knowledgeable (33%) logical (33%) loving (33%) mature (0%) modest (0%) nervous (0%) observant (0%) organised (0%) patient (33%) powerful (0%) proud (0%) quiet (0%) reflective (0%) relaxed (0%) religious (0%) responsive (33%) searching (0%) self-assertive (0%) self-conscious (0%) sensible (33%) sentimental (0%) shy (33%) silly (0%) spontaneous (0%) sympathetic (0%) tense (0%) trustworthy (0%) warm (0%) wise (0%) witty (0%)

search

recent posts

recent comments

labels

archives

links

statistic

admin