<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=17988160776302404&amp;blogName=Arsip+Kuliah+Magister+Manajemen+S2&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fs2.wahyudiharto.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Studi Kasus: Kasus Alain Delon

BAB I
LATAR BELAKANG

Pemimpin adalah penjaga standar mutu bagi organisasi yang dipimpinnya. Sementara itu di sisi lain, setiap organisasi bertanggungjawab untuk berusaha mengembangkan suatu perilaku organisasi yang mencerminkan kejujuran dan etika yang dikomunikasikan secara tertulis dan dapat dijadikan pegangan oleh seluruh karyawan. Kultur tersebut harus memiliki akar dan memiliki nilai-nilai luhur yang menjadi dasar bagi etika pengelolaan suatu organisasi atau suatu entitas.

Hal yang terjadi adalah sebaliknya, dalam kasus Alain Delon dengan Uzrok sebagai peran utama yang dikhianati oleh salah satu bawahannya membawanya kepada sebuah kebijakan pemindahan secara sepihak oleh Direksi dari suatu hal yang tidak berlandaskan pada fakta yang valid.

BAB II
RUMUSAN MASALAH

Bertitik tolak dari latar belakang tersebut yang menjadi pokok permasalahan pada penelitian ini adalah : Apakah kebijakan direksi dalam memindahkan Uzrok sebagai pemimpin di Kantor Cabang ke Kantor Pusat adalah keputusan yang tepat?

BAB III
PEMBAHASAN

Pedoman pada kegiatan perilaku dalam oganisasi setidaknya berlandaskan pada empat hal, yaitu:
a. Profesionalisme
b. Kerjasama
c. Keserasian, keselarasan dan keseimbangan
d. Kesejahteraan

Keberhasilan pembangunan suatu etika perilaku dan kultur organisasi yang anti kecurangan yang akan mendukung secara efektif penerapan nilai-nilai budaya kerja, sangat erat hubungan dengan hal-hal atau faktor-faktor penentu keberhasilannya yang saling terkait satu dengan yang lainnya sebagai berikut :

a. Komitmen dari Top Manajemen Dalam Organisasi
Dalam suatu unit organisasi, terutama unit organisasi yang besar, dari manajemen sangat dibutuhkan dua hal yaitu komitmen moral dan keterbukaan dalam komunikasi. Kedua hal tersebut dapat mewujudkan harapan munculnya etika perilaku yang kuat, karena banyak pegawai yang tidak menyukai perbuatan pimpinan yang kurang bermoral dan kurang terbuka dalam berkomunikasi. Manajemen harus memperlihatkan kepada karyawan tentang adanya kesesuaian antara kata dengan perbuatan dan tidak memberikan tolerensi terhadap perbuatan-perbuatan yang melanggar kaedah-kaedah etika organisasi yaitu dengan diberikan sanksi hukuman yang jelas dan demikian pula sebaliknya terhadap pegawai yang berprestasi dan bermoral baik diberikan penghargaan yang proporsional.

Adanya pelaksanaan hukuman dan penghargaan yang konsisten akan memberikan nilai tambah bagi terciptanya suatu etika perilaku dan struktur organisasi yang kuat. Pegawai akan merasakan diperlakukan secara adil dan merasa bersyukur atas posisi yang diraihnya bilamana etika organsasi dapat ditegakan secara konsisten oleh manajemen. Pimpinan hendaknya menjadi sponsor utama dalam upaya terciptanya semangat anti kecurangan yaitu dengan membangun suatu kultur organisasi yang mengandung sistem nilai yang kuat dan berdasarkan profesionalisme, integritas, kejujuran dan loyalitas yang tinggi untuk mewujudkan visi dan misi organisasi.

b. Membangun Lingkungan Organisasi Yang Kondusif
Kepedulian positif dari lingkungan kerja sangat diperlukan dalam membangun suatu etika perilaku dan kultur oganisasi yang kuat. Rendahnya kepedulian dan rendahnya moral akan menyuburkan tindakan kecurangan yang pada akhirnya akan merusak bahkan dapat menghancurkan organisasi.
Faktor-faktor ketidak pedulian tersebut antara lain disebabkan oleh :
1) Top manajemen kurang peduli tentang hukuman dan penghargaan.
2) Umpan balik yang negatif yang dirasakan oleh pegawai yang bermoral atau bermental baik dan penempatan kerja yang tidak adil atau tidak berbasis kinerja dan tidak sesuai dengan kemampuan pegawai
3) Berkembangnya rasa ketidak pedulian akan organisasi
4) Pimpinan lebih bersifat otoriter dan kurang menghargai partisipasi karyawan
5) Rendahnya loyalitas dan rasa memiliki organisasi
6) Anggaran yang tidak rasional dan adanya pemaksaan pencapaian target yang tidak rasional tersebut.
7) Kurangnya pelatihan pegawai dan kurangnya kesempatan promosi
8) Tidak jelasnya pertanggungjawaban organisasi
9) Kurangnya komunikasi dan metode kerja organisasi yang tidak jelas

c. Perekrutan dan Promosi Pegawai
Setiap pegawai memiliki masing-masing seperangkat nilai-nilai kejujuran, integritas dan kode etik personal. Ketika suatu organisasi atau entitas berhasil dalam pencegahan kecurangan, dipastikan organisasi tersebut sudah memiliki kebijakan2 yang efektif yang dapat meminimalkan kemungkinan adanya merekrut atau mempromosikan pegawai yang memiliki tingkat kejujuran yang rendah , terutama untuk posisi yang memerlukan tingkat kepercayaaan.

d. Pelatihan Yang Berkesinambungan
Pegawai baru sebaiknya diberi pelatihan tentang nilai-nilai organisasi atau entitas dan standar-standar pelaksanaan pada saat perekrutan. Pelatihan ini sebaiknya secara ekplisit dapat mengadopsi harapan-harapan dari seluruh pegawai menyangkut :
1) Kewajiban-kewajiban mengkomunikasikan masalah-masalah tertentu yang dijumpai.
2) Membuat Daftar jenis-jenis masalah, termasuk kecurangan yang terjadi atau yang dicurigai untuk dikomunikasikan secara jelas dan spesifik ; dan
3) Informasi bagaimana mengkomunikasikan masalah2 tersebut. Dan juga sebaiknya ada kepastian dari Manajemen Senior mengenai harapan-harapan pegawai dan tanggung jawab komunikasi tersebut. Pelatihan semacam itu sebaiknya meliputi suatu elemen. Sadar akan adanya Kecurangan ( " fraud awareness"), yang positif tapi tidak ditekankan pada bahwa kecurangan dapat menjadi mahal bagi entitas dan para pegawainya.

e. Menciptakan Saluran Komunikasi Yang Efektif
Manajemen membutuhkan informasi mengenai pelaksanaan dan pertanggungjawaban pekerjaan apakah sudah susuai dengan kode etik atau tidak dari masing-masing pegawai. Masing-masing pegawai harus dapat menginformasikan tentang pelaksanaan kode etik tersebut mulai dari pemegang posisi tertinggi sampai yang terendah. Laporan yang jujur dari karyawan sangat dibutuhkan dan bukan atas dasar sakit hati atau irihati pada seseorang. Demikian juga laporan internal auditor harus ditindaklanjuti oleh manajemen sesuai dengan aturan kode etik yang sudah disepakati.

f. Penegakan kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan suatu kunci penting keberhasilan dalam menerapkan dan memelihara kode etik dalam suatu organisasi. Tindakan disiplin akan dapat mengurangi perbuatan curang yang dilakukan pegawai. Hal-hal berikut ini dapat mengurangi tindakan kecurangan :
1) Investigasi terhadap suatu insiden dilakukan selalu dalam kerangka menegakan kode etik atau terhadap yang melanggar kode etik secara konsekuen.
2) Perlakuan atas suatu kasus harus proporsional dan konsisten.
3) Pengendalian yang relevan atas penugasan dan pengembangannya.
4) Komunikasi dan pelatihan harus sesuai dengan nilai-nilai organisasi, kebutuhan dan sesuai kode etik dan harapan.

Pandangan terhadap konsekuwensi kecurangan harus secara nyata disebarluaskan kepada seluruh pegawai. Pegawai harus disiplin dengan waktu dan sumber daya. Setiap perbuatan melanggar disiplin organisasi akan dikenakan sanksi. Pegawai yang disiplin akan dapat meningkatkan kultur organisasi

Analisa terhadap kasus Alain Delon yang disampaikan pada makalah dalam tugas kelompok mata kuliah Perilaku Berorganisasi ini terbagi dalam beberapa aspek sudut pandang, yaitu antara lain:
1. Pengorganisasian
Dari sudut pandang organisasi, subjek Uzhrok sebagai pimpinan Kantor Cabang memiliki karakterisitik protagonist yang terlihat cukup baik dari sisi gaya kepemimpinan yang telah berhasil dalam melakukan perubahan. Namun demikian, Direksi yang memang memiliki hak untuk memindahkannya dalam kasus ini tidak melakukan cek dan ricek terhadap permasalahan yang ada sehingga keputusan Direksi yang hanya berdasarkan surat kaleng yang dilayangkan tidak dapat dibenarkan.

Melalui peranan organisasi, diharapkan dua hal berikut dibawah ini:
a. Dengan adanya organisasi jelas siapa yang akan melakukan apa, siapa bertanggung jawab kepada siapa, saluran komunikasi serta sumberdaya yang difokuskan pada tujuan-tujuan.
b. Struktur organisasi memerlukan persyaratan tertentu dan pembentukan struktur organisasi memerlukan perhatian pada spesialisasi dan koordinasi.

Persyaratan organisasi yang baik harus meliputi tiga hal sebagai berikut:
a. Agar dapat mewadahi strategi, kebijakan dan taktik badan usaha, organisasi harus dirancang bangun dengan baik.
b. Organisasi yang baik harus diciptakan berdasarkan keseimbangan antara struktur dan faktor lingkungan, teknologi, ukuran/besar, strategi dan manusia.
c. Ada empat pendekatan terhadap persyaratan organisasi yang baik, yaitu pendekatan birokrasi, mekanistik dan organik, situasional dan sub-sistem.


2. Peraturan Perundang-Undangan
Di dalam beberapa teori manajemen disebutkan, unsur manusia merupakan salah satu yang terpenting di antara yang lain. George R Terry, dalam Principles of Management mengatakan: "The element of men, methods, materials, machines, money and markets are commonly referred to as the Six M's; they are basic to any enterprise".

Pendapat Terry tersebut berlaku di dalam administrasi dan manajemen suatu organisasi apa pun, baik lembaga milik negara ataupun lembaga korporasi. Menyadari hal tersebut, wajar bila manajemen kini mengalihkan prinsipnya dari "job oriented" menjadi "people oriented", sehingga banyak faktor dalam unsur manusia yang perlu lebih diperhatikan seperi moral, mental, disiplin dan nilai-nilai karakter atau kepribadian yang lain.

Ada banyak faktor yang memengaruhi orang untuk melakukan penyimpangan keuangan, seperti keterpaksaan dan tergiur lingkungan materialistis. Namun, itu tetap saja tidak tepat dijadikan alasan melakukan penyalahgunaan.Websters Third New International Dictionary menyebutkan perilaku korup (corrupt) dengan "of debased political morality: characterized by bribery, the selling of political favors, or other improper political or legal transactions or arrangements".

Namun bila manajemen yang benar kurang dipahami serta moral kurang terjaga, bukannya perbaikan dan penyempurnaan yang muncul, tetapi kebingungan dan penyimpangan

3. Kebijakan
Hasil analisa dari sudut pandang kebijakan dari studi kasus ini, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Dalam membuat keputusan Direksi dilakukan sepihak karena keputusan yang diambil untuk memindahkan Uzhrok hanya berdasarkan surat kaleng saja tanpa meminta info dari pihak Uzhrok.
b. Manajemen harus membuat standarisasi Sistem yang sama di seluruh cabang yang dibawahinya.

Melalui standar-standar dan ukuran hasil kerja yang terpadu, kebijakan internal perusahaan harus melihat tiga aspek berikut di bawah ini:
a. Agar supaya kegiatan organisasi itu efisien dan efektif maka haruslah didasarkan pada standar-standar yang diterima dan yang kemudian dapat digunakan sebagai ukuran hasil kerja.
b. Penentuan standar kerja didasarkan pada berbagai cara.
c. Standar kerja tidak perlu harus ketat namun harus mengandung unsur manusiawi.

4. Harapan dan Pelaksanaan
Situasi yang terjadi dalam Bank Komersial PELAYANDA mengharuskan realisasi atas harapan dan pelaksanaan dari dua hal berikut ini:
a. Dibutuhkan perubahan paradigma berkomunikasi yang terstruktur dan sesuai prosedur dalam perusahaan tersebut.
b. Manajemen harus dapat mengarahkan, mempengaruhi, berkomunikasi antara atasan dengan bawahan agar mereka bersedia mengikuti yang dinginkan manajemen hingga tercapainya tujuan perusahaan.

Implementasi dan kontrol strategi, kebijakan, program dan taktik perusahaan setidaknya membutuhkan tiga hal penjelasan dibawah ini:
a. Agar supaya strategi, kebijakan dan taktik berhasil dilaksanakan perlu struktur organisasi yang sesuai, sumberdaya manusia yang memadai, imbalan yang cukup serta budaya organisasi yang menunjang.
b. Pengawasan strategi, kebijakan dan taktik organisasi perlu dilakukan agar segala penyimpangan dapat diperbaiki.
c. Pengawasan memerlukan sistem informasi yang sesuai dengan kebutuhan.

5. Relevansi dengan Perubahan Lingkungan
Dari studi kasus pada makalah ini tidak ditemukan relevansi yang menyimpang antara perilaku uzrok dengan manajemen. Namun demikian, perubahan lingkungan yang telah terjadi sejak ia memimpin kantor cabang di kota M tersebut membawa penyelewengan perilaku beberapa karyawan yang tidak menyenanginya.

Sebagai seorang dengan posisi yang menjabat manajemen tingkat menengah, ada tiga hal yang sudah sewajarnya dilaksanakan, yaitu antara lain:
a. Manajemen menengah yang memiliki keterampilan manajemen yang kebanyakan adalah konseptual dan separuh manusiawi dan teknis untuk menyelenggarakan fungsi manajemen agar berperan dalam membina hubungan antarpribadi, memberi informasi, dan memutuskan agar mencapai produktivitas.
b. Manajemen menengah perlu selalu mencoba perilaku baru untuk memperoleh pengalaman dan pemikiran baru dalam menciptakan model, hal ini sangat penting untuk menghadapi masalah yang timbul.
c. Apa yang dilakukan manajemen menengah akan membentuk semacam perbendaharaan atau sumber bagi pimpinan tingkat atas

Labels:

“Studi Kasus: Kasus Alain Delon”

about


A little something about me, the author. Nothing lengthy, just an overview.

Also a link to my profile may show up here.

Dominant Traits Johari Window

66% of people think that Eko Wahyudiharto is clever
66% of people think that Eko Wahyudiharto is friendly
66% of people agree that Eko Wahyudiharto is idealistic

All Percentages

able (0%) accepting (0%) adaptable (0%) bold (0%) brave (0%) calm (33%) caring (0%) cheerful (0%) clever (66%) complex (0%) confident (0%) dependable (0%) dignified (0%) energetic (0%) extroverted (0%) friendly (66%) giving (0%) happy (0%) helpful (0%) idealistic (66%) independent (33%) ingenious (0%) intelligent (33%) introverted (0%) kind (33%) knowledgeable (33%) logical (33%) loving (33%) mature (0%) modest (0%) nervous (0%) observant (0%) organised (0%) patient (33%) powerful (0%) proud (0%) quiet (0%) reflective (0%) relaxed (0%) religious (0%) responsive (33%) searching (0%) self-assertive (0%) self-conscious (0%) sensible (33%) sentimental (0%) shy (33%) silly (0%) spontaneous (0%) sympathetic (0%) tense (0%) trustworthy (0%) warm (0%) wise (0%) witty (0%)

search

recent posts

recent comments

labels

archives

links

statistic

admin