<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=17988160776302404&amp;blogName=Arsip+Kuliah+Magister+Manajemen+S2&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fs2.wahyudiharto.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Konsep Pemikiran Mencegah Korupsi

Tuesday, December 30, 2008 by Eko Wahyudiharto


LANDASAN KONSEP
Korupsi dapat dikatakan sebagai perbuatan memperkaya diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara (UU No.31/99, P:2.1). Korupsi juga bisa didefinisikan sebagai perbuatan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara (UU No.31/99, P:3).

Korupsi pada hakekatnya berawal dari suatu kebiasaan (habit) pemicu korupsi (korupsioster) dari faktor kelalaian maupun yang disengaja, baik yang disadari atau tidak oleh setiap karyawan, mulai dari kebiasaan penyelewengan peraturan, peningkatan kesejahteraan, hadiah, suap, pemberian fasilitas tertentu ataupun yang lain dan pada akhirnya kebiasaan tersebut lama-lama akan menjadi bibit korupsi (korupsiogen) yang nyata dan dapat merugikan perusahaan.

Untuk mencabut akar permasalahan sumber terjadinya korupsi, perlu didefinisikan sifat dari korupsi dan dilakukan pengukuran secara komprehensif dan berkesinambungan. Mendefinisikan sifat korupsi, dapat dimulai dengan melakukan pengukuran secara obyektif dan komprehensif dalam mengidentifikasi jenis, tingkat dan perkembangan korupsi serta menganalisa bagaimana korupsi bisa terjadi dan bagaimana kondisinya pada lingkungan operasional PERUM Pegadaian.

Untuk dapat mencegah secara efektif terjadinya korupsi, hendaknya dihindari pengukuran korupsi yang semata-mata bertujuan untuk mendeteksi pelaku korupsi dan menghukumnya. Penting untuk mulai menempatkan strategi pencegahan korupsi dengan tujuan untuk mengeliminasi faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi sejak dini. Dalam menetapkan strategi pencegahan korupsi, perlu diidentifikasi dan dianalisa faktor-faktor yang menjadi akar penyebab, yang berkontribusi menimbulkan korupsi.

Analisis implementasi GCG (Good Corporate Governance) pada lembaga XXX sudah seharusnya ditingkatkan dengan mengukur implementasi berdasarkan prinsip-prinsip GCG yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness (kewajaran serta kesetaraan), serta berdasarkan kerangka kerja GCG yaitu compliance, conformance, dan performance. Selain itu, secara khusus dilihat aspek code of conduct, pencegahan korupsi dan disclosure.

ANALISA PENYEBAB KORUPSI
Beberapa faktor yang akan menimbulkan resiko terjadinya korupsi di XXX, antara lain sebagai berikut:
1. Bidang Logistik
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa yang masih berpedoman pada Kepres 80 tahun 2003 membuka peluang akan lemahnya asas transparansi, akuntabilitas dan independensi
2. Bidang Operasional
a. Kurangnya asas responsibilitas dilihatnya dari minimnya tugas dan tanggung jawab komite audit di perusahaan
b. Situasi dan kondisi (kesempatan dan sarana kerja) yang mampu mendorong kepada arah penyelewengan seperti pada lemahnya intensifikasi dibidang verifikasi data pada sistem komputerisasi yang dapat memudahkan manipulasi data oleh pihak tertentu
3. Bidang SDM
a. Adanya kesenjangan kesejahteraan antara pejabat dan non pejabat sebagai dasar pemenuhan kebutuhan hidup, dapat memicu terjadinya penyimpangan seperti penggelapan barang dan uang di beberapa unit kerja
b. Jika dilihat dari kerangka kerja GCG, aspek yang masih lemah adalah aspek compliance pada sisi manajemen dan conformance pada sisi karyawan. Pada sisi manajemen, kelemahannya terletak pada implementasi pencegahan benturan kepentingan, dan peningkatan kerjasama dengan penegak hukum. Sedangkan pada sisi karyawan, berkaitan dengan penandatanganan pernyataan kepatuhan kepada Pedoman Perilaku dan Peraturan Perusahaan.

UPAYA PENCEGAHAN
Dengan melihat beberapa ulasan pada sub bagian sebelumnya, cara pencegahan terjadinya tindak pidana korupsi di instansi XXX yaitu :
1. Bidang Logistik
a. Peran Teknologi Informasi seperti pembangunan e-Procurement dalam meminimalisasi resiko tindak pidana pada penyelenggaraan Pengadaan Barang dan Jasa dapat meningkatkan asas transparansi, akuntabilitas dan dependensi
2. Bidang Operasional
Peningkatan pengawasan kegiatan operasional khususnya pada hukum korupsi dengan porsi yang proporsional dan independen bagi pihak terkait yang bertugas melakukan audit
3. Bidang SDM
a. Perlunya edukasi lanjut dibidang hukum korupsi terutama untuk auditor internal sebagai pihak yang bertugas untuk melakukan audit serta pengawasan terhadap pelaksanaan dari tindakan yang berpotensi terhadap terjadinya penyelewengan serta benturan kepentingan
b. Sikap kepatuhan tinggi untuk seluruh karyawan terhadap norma-norma hukum yang berlaku baik tertulis maupun tidak tertulis tanpa melihat status sosialnya
c. Perlu adanya sosialisasi yang intensif tentang pedoman umum GCG, penyusunan code of conduct, kaitan GCG dengan pencegahan korupsi, dan best practises dalam penerapan GCG melalui pengawasan yang ketat oleh lembaga pengawas dan pembina yaitu kementerian BUMN.
d. Budaya hukum, etos kerja serta kualitas karyawan yang harus mendukung

KESIMPULAN
Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa mencegah korupsi tidak cukup dengan menekankan dimensi moralitas individu. Sebaik apapun, semoralis apapun, jika berada pada sistem yang memungkinkan terjadinya penyalahgunaan wewenang untuk mengambil suatu yang tidak berhak, maka dimensi moral seseorang akan berada dalam posisi selemah-lemah iman. Dengan demikian, masalah moral saja tidak cukup untuk mencegah terjadinya korupsi, lebih dari itu dibutuhkan aturan ketat, edukasi dan kontinyuitas sosialisasi serta tindakan hukum yang tegas pula.

DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Labels:

Manajemen Stress

Monday, December 29, 2008 by Eko Wahyudiharto

PENGERTIAN STRESS
Kata STRESS pertama kali digunakan oleh Hans Selye (1930) untuk mengidentifikasi reaksi fisik dalam laborarorium hewan.



1. Fase Alarm
Pemicu stress (stressor) teridentifikasi
2. Fase Resistance
Perlawanan dari dalam tubuh
3. Fase Exhaustion
Jika fase#2 berlanjut, muncul efek samping berupa depresi atau tekanan jiwa
Stress: Berbagai faktor baik fisik maupun emosional yang berdampak terhadap perubahan kesehatan dan jiwa.

STRESS DALAM PEKERJAAN
Stress dalam pekerjaan akan hadir apabila munculnya rasa tidak nyaman dalam bekerja yang diakibatkan oleh perubahan kondisi (stressor) yang akan mempengaruhi aktivitas bekerja.

PEMICU STRESS DALAM PEKERJAAN
1. Makna kerja
2. Aktivitas sosial
3. Gaya hidup
4. Pengelolaan keuangan
5. Kesehatan

AKIBAT STRESS
1. Reaksi PSIKOLOGIS
Lebih dikaitkan pada aspek emosi seperti mudah marah, sedih ataupun mudah tersinggung
2. Reaksi FISIOLOGIS
Muncul dalam keluhan fisik seperti pusing, nyeri tengkuk, tekanan darah naik, nyeri lambung, gatal kulit atau rambut rontok
3. Reaksi KOGNISI (proses berpikir)
Tampak dalam gejala sulit berkonsentrasi, mudah lupa ataupun sulit mengambil keputusan
4. Reaksi PERILAKU
Timbul pada perilaku menyimpang seperti mabuk, nge-pil, frekuensi rokok meningkat atau menghindar bertemu dengan teman

PENGARUH PEKERJAAN DAN RESIKO STRESS
1. Pekerjaan adalah karir lanjutan
Pekerjaan sebagai kelanjutan dari masa-masa aktif sebelum bekerja sehingga tidak ada perbedaan antara kegiatan sebelum dan saat bekerja
2. Pekerjaan adalah masa transisi
Pekerjaan dianggap sebagai masa untuk melepaskan segala aktivitas dan kegiatan yang digeluti
3. Pekerjaan adalah permulaan yang baru
Pekerjaan dianggap sebagai masa kesempatan untuk mengubah kehidupan dan melakukan kegiatan terutama cita-cita atau hobi yang belum pernah dilakukan
4. Pekerjaan adalah kekacauan
Pekerjaan dipersepsikan sebagai suatu bentuk ancaman dan peristiwa yang tidak mengenakkan. Adanya perasaan kehilangan peran, kesempatan untuk maju dan berkarya. Makna kerja bagi mereka adalah suatu identitas diri, seolah-olah tanpa kerja, orang kehilangan identitas dan keberartian diri.

TERAPI STRESS
1. Mengidentifikasi sumber stress
2. Meningkatkan kualitas hidup
SOLUSI SUGESTI I’M TOO BUSY TO STRESS!!!

Labels:

Kriteria Profesional untuk Instansi

Tuesday, December 23, 2008 by Eko Wahyudiharto

DEFINISI PROFESIONAL
Profesional berarti ahli dan terampil serta mau dan mampu maju dalam hal pengusaan konsep, sistem, prosedur, peralatan dan kelengkapan serta memiliki tingkat adaptasi yang tinggi untuk belajar mandiri melalui pendidikan, pelatihan, kursus, seminar dan pengalaman.
Seseorang yang profesional dianggap memiliki knowledge, skill dan attitude (sikap mental) serta dapat memilah antara urusan pribadi dan pekerjaan. Profesionalisme juga berkaitan dengan confidency (rasa percaya diri) dan learning capacity yang tinggi.

SEKILAS SDM & PEKERJAAN DALAM INSTANSI
Secara garis besar, kebanyakan instansi memiliki empat ”porsi” header ruang pekerjaan besar antara lain: bidang operasional, keuangan, SDM dan logistik dengan tipikal SDM sebagai pengisi posisi kerja yang memiliki latar belakang pendidikan yang beragam dan selalu tidak tetap dan berpindah-pindah dalam hal penempatan kerja baik melalui mekanisme mutasi, promosi maupun demosi.

Akan tetapi, tuntutan pekerjaan mewajibkan para karyawan tetap berada dalam koridor penguasaan pekerjaan yang maksimal dan bersifat generalis (bukan spesialis). Atau dengan kata lain, karyawan harus bisa dituntut untuk melakukan pekerjaan ini dan pekerjaan itu.

Namun demikian, unit kerja SDM juga harus mempertimbangkan kekuatan kecakapan masing-masing karyawan secara komprehensif untuk dapat berperan secara profesional agar mampu bekerja secara efektif dan efisien.

KRITERIA PROFESIONAL
Apabila saya menjadi pejabat SDM, kriteria profesionalitas harus ditegakkan guna meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja. Ada beberapa isu yang terkait dengan hal ini, antara lain:

1. Kontrol setiap karyawan
Adanya perumusan karyawan mengenai rasio emosi yang tepat dan komprehensif sehingga dilahirkan karyawan dengan kepribadian yang seimbang dan matang.

2. Komitmen terhadap waktu
Karyawan harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap waktu karena waktu adalah patokan dari efektifitas suatu pekerjaan.

3. Berwawasan kedepan
Karyawan harus mampu mengendalikan masa depan dan tidak menyerah dengan keadaan. Sikap hidup berwawasan kedepan dapat diperoleh melalui mekanisme seleksi pemilihan karyawan yang tepat.

4. Objektivitas Pekerjaan
Pekerjaan karyawan bukan berdasar pada perasaan melainkan berdasar pada objektivitas data. Bekerja secara objektif adalah bekerja yang lebih menghargai waktu.

5. Taat peraturan
Pentingnya peraturan disiplin yang jelas dan disosialisasikan kepada seluruh karyawan. Sebagai penilaian secara komprehensif, patokan kepatuhan juga berlandaskan pada reward & punishment yang setimpal.

6. Integritas Tinggi
Karyawan diutamakan yang memiliki integritas yang tinggi. Integritas karyawan didasarkan pada tingkat kejujuran, komitmen dan tanggung jawab.

7. Cerdas
Karyawan memiliki sikap dan kemampuan menganalisa persoalan serta sistematika berfikir untuk pengambilan keputusan dan berpendapat untuk membuat konsep yang berhubungan dengan pekerjaan.

8. Etos Kerja
Fighting spirit yang dimiliki karyawan harus maksimal karena karyawan merupakan ujung tombak perusahaan dalam mendapatkan keuntungan.

9. Profesional
Pemilihan karekterisitk karyawan harus disesuaikan dengan tugas dan fungsi pekerjaan agar didapatkan posisi yang tepat bagi karyawan tersebut (the right man on the right time & place)

10. Enterpreneurship
Karyawan juga mampu dipupuk untuk memiliki tingkat enterpreneurship yang tinggi.

Labels:

Manajemen Stress untuk Karyawan Pra Purna Karya

Monday, December 22, 2008 by Eko Wahyudiharto

DEFINISI PENSIUN
Asosiasi kata yang timbul ketika orang mendengar kata pensiun adalah kesepian, kesendirian, kehilangan jabatan, tidak dihormati, tak berdaya dan mulai timbulnya berbagai gejala distress. Akronim MPP adalah Mati Pelan-Pelan. Reaksi-reaksi yang bersikap positif menunjukkan bahwa masa pensiun adalah masa kebebasan karena lepas tanggung jawab, masa-masa bulan madu kedua & masa-masa lebih dekat dengan anak cucu.

Purna karya merupakan bentuk dari perubahan yang dapat menyebabkan kegoncangan emosional apabila tidak dipersiapkan (perubahan yang bersifat off time), di sisi lain perubahan yang on time akan mengurangi kegoncangan.


REAKSI PENSIUN
Reaksi terhadap pensiun pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu reaksi positif dan negatif.























Macam Reaksi
Hornstein & Warner
Reichard, Livson & Peterson
Ahli Lain
Reaksi PositifDianggap: Masa Transisi, Permulaan yang baru atau Karir LanjutanKelompok: Mature, Rocking Chairman, ArmoredPerilaku: Normal
Reaksi NegatifDianggap: KekacauanKelompok: Angry men, Self hatersPerilaku: Goncang, Kompensasi berlebihan


TIPS PENYESUAIAN MENGHADAPI PENSIUN
1. Makna Kerja
Penyesuaian terhadap masa purna karya juga tergantung pada sebagian besar hirarki tujuan personal . Jika suatu pekerjaan bukan termasuk dalam kategori prioritas yang tinggi, maka tidak ada perusahaan serius dalam tujuan personal para pensiunan tersebut. Sebaliknya, jika pekerjaan mempunyai makna yang tinggi, maka mencari pekerjaan adalah sebagai alternatifnya atau mencari aktivitas pengganti lainnya. Jika aktivitas pengganti ini tidak dapat diterima atau ditemukan, maka mereka akan kurang melibatkan diri pada aktivitas kehidupan sehari-hari atau mereka menarik diri atau menunjukkan gejala-gejala post power syndrome.

2. Aktivitas Sosial
Studi yang dilakukan oleh Hooker & Ventis pada 34 pria dan 42 wanita yang mempunyai rentang usia 53 – 68 tahun secara proporsional dipengaruhi jumlah aktivitas yang dilakukan. Lebih lanjut dikatakan bahwa jika aktivitas tersebut dirasakan oleh pensiunan sebagai sesuatu yang bermanfaat maka perasaan terhadap kepuasan semakin meningkat. Hal ini mendukung teori kesuksesan dari Ekerd yaitu busy ethic yang menyatakan bahwa dalam masa pensiun, individu harus mentransfer dari etik kerja ke dalam aktivitas yang bermakna. Aktivitas yang paling umum dilakukan adalah memberikan layanan masyarakat, meningkatkan dan mengembangkan keterampilan, hobi yang mendatangkan keuntungan dan bergerak di dunia pendidikan.

3. Gaya Hidup
Orang yang merasa mampu melakukan kontrol terhadap masa pensiun akan merasa bahagia3. Dalam hal ini, perubahan gaya hidup merupakan alternatif yang tidak bisa ditawar-tawar kembali, terutama bagaimana memberikan informasi awal bagi anak-anak dan membuat kebiasaan-kebiasaan baru yang selama ini terlanjur dilakukan.

4. Pengelolaan Keuangan
Kecemasan yang besar salah satu sumber yang dirasakan para karyawan yang akan pensiun adalah berkurangnya penghasilan. Terutama selisih pendapatan yang diterima secara signifikan antara bekerja dengan pensiun, hal ini terjadi pada pegawai negeri dan BUMN. Masalah kesenjangan yang cukup tajam ini sangat berkaitan dengan gaya hidup yang sekarang digunakan. Ada 2 kemungkinan yang bisa dilakukan, yaitu pertama; mengubah dan melakukan restrukturisasi gaya hidup. Dalam hal ini, pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip kebutuhan (need) dan bukannya keinginan (want) atau didasarkan pada prinsip rasionalitas & urgensi. Kedua, jika mengubah gaya hidup tidak mungkin dilakukan, maka penambahan penghasilan menjadi alternatifnya. Apakah bekerja kembali pada perusahaan atau menjadi wirausaha.

5. Kesehatan
Sebenarnya tidak ada hubungan langsung antara pensiun dengan sakit tetapi ada beberapa orang yang mengalami retirement shock, yaitu mereka yang setelah pensiun kemudian meninggal dunia. Masalah kesehatan menjadi masalah yang membuat cemas para karyawan yang akan pensiun. Tidak setiap perusahaan memberikan jaminan kesehatan di hari tua, padahal semakin tua probabilitas sakit semakin besar. Teori aktivitas menyatakan bahwa pada dasarnya tidak ada perubahan antara masa dewasa dengan masa lanjut usia. Aktivitas yang dilakukan orang lanjut usia justru akan semakin mempertahankan kondisi fisik dan psikis semakin prima. Karenanya, prilaku sehat merupakan salah satu alaternatif yang dapat dibiasakan.

6. Religiusitas
Pandangan masyarakat timur terhadap masa pensiun merupakan masa untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Sebagian pensiunan yang religius meyakini bahwa cara yang ampuh dalam mengelola stres adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.

7. Berpikir Positif dan Optimis
Jika masa pensiun dipandang sebagai masa yang wajar yang harus dilewati, maka reaksi yang timbul adalah wajar-wajar saja. Orang yang distress, pada dasarnya disebabkan karena mereka berpikir negatif dan ada kesalahan dalam proses berpikir.

KESIMPULAN
Perubahan, gejolak dan ancaman selalu melanda dalam kehidupan manusia. Namun demikian, manusia dengan segala kelebihannya dapat mengantisipasi dan tidak akan tergilas oleh roda perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, memasuki masa pensiun, memang dibutuhkan stress, agar orang merasa lebih siap menghadapi masa-masa itu. Asalkan stress tidak berubah menjadi distress yang akan menggilas manusia menjadi tidak berdaya. Apa yang dinikmati dan dirasakan selama ini adalah titipan anak cucu dan sewajarnya diberikan kembali kepadanya. Hari-hari yang akan datang adalah hari-hari indah yang lebih diisi sesuai dengan kehendak hati apakah pensiun sebagai masa transisi, sebagai karir lanjutan atau sebagai masa permulaan kehidupan yang baru.

Labels:

Konsep Disiplin yang Efektif dan Aktual

Sunday, December 21, 2008 by Eko Wahyudiharto

PENGERTIAN DISIPLIN
Disiplin berasal dari bahasa Latin ”disciplina” yang berarti instruksi. Akar kata disciplina adalah ”discere” yang berarti belajar dengan turunan kata ”discipulus” yang berarti murid .
Disiplin adalah sikap mental untuk melakukan hal-hal yang seharusnya pada saat yang tepat dan benar-benar menghargai waktu.

DISIPLIN SEDERHANA
Praktek pendisiplinan diri secara sederhana dapat terjadi dari diri sendiri kepada diri sendiri, kemudian dilanjutkan dari orang tua kepada anak-anaknya, hingga pemerintah kepada masyarakat.
Contoh:
1. Praktik hemat diwujudkan dengan tidak mengeluarkan biaya selain untuk hal-hal yang baik bagi orang lain dan diri sendiri
2. Rajin dengan tidak membiarkan waktu yang kosong dengan menggunakan waktunya melalui kegiatan yang berguna
3. Melatih sikap jujur dengan tidak melakukan tipu muslihat yang menyakitkan hati, berpikir bersih dan jernih serta berbicara tentang yang benar saja.

SYARAT DISIPLIN
1. Bersifat berkesinambungan (kontinyuitas) dan konsisten
2. Fleksibel (tidak otoriter)
3. Adanya batas-batas yang pasti mana yang boleh dan tidak boleh
4. Kepastian hukum
5. Adanya komunikasi (yang sehat dan konstruktif tanpa unsur merendahkan dan melecehkan)

CARA MELATIH DISIPLIN
1. Memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan
Pastikan setiap hari dengan harus memiliki target prioritas yang realistis, jelas dan spesifik
2. Berlatih
Dengan berlatih, disiplin bukan menjadi suatu beban, melainkan menjadi suatu kebiasaan
3. Konsisten
Dilakukan secara terus menerus

DISIPLIN DALAM PEKERJAAN



Disiplin dalam perusahaan dapat dilakukan melalui pendekatan bottom-up. Disiplin dimulai dari masing-masing karyawan hingga ke tingkat unit yang lebih tinggi (middle manajemen). Unit-unit yang telah disiplin akan mengarah ke dalam lingkup yang lebih luas yaitu organisasi yang disiplin.

TIPS MENUJU DISIPLIN YANG EFEKTIF
1. Menyadari bahwa ada faktor motivasi dibalik tingkah laku buruk yang ditampilkan
2. Tetapkan batasan yang jelas dan tepat
3. Hubungkan disiplin dengan situasi yang sedang terjadi
4. Konsekuensi
5. Jangan memberi sanksi disiplin di muka umum
6. Hindari amarah yang meledak ledak
7. Tetapkan disiplin yang sesuai untuk perilaku buruk
8. Sanksi disiplin diberikan segera setelah perilaku buruk ditampilkan
9. Pengawasan hingga beberapa waktu

Labels:

Peran Pemimpin dalam Perubahan

Sunday, December 14, 2008 by Eko Wahyudiharto



Kondisi Eksternal dan internal sangat mempengaruhi kontinuitas organisasi. Lingkungan yang dinamis menuntut organisasi harus responsif, adaptif dan lebih fleksibel. Menurut kelompok III, pemimpin organisasi harus bisa menciptakan maksimisasi SDM dan rumusan strategi bersaing yang handal. Namun demikian, posisi pemimpin bukanlah dimiliki oleh segelintir orang berdasar jabatan, namun akan lebih baik diperuntukkan bagi keseluruhan elemen karyawan dalam perusahaan.

Ada hubungan yang terkait antara optimalisasi SDM dengan optimalisasi perusahaan melalui peningkatan kualitas SDM dan peningkatan kinerja perusahaan. Maksimisasi SDM akan membicarakan tentang tantangan manajemen, motivasi, pekerja, keterlibatan pekerja, dan nilai kerja itu sendiri, sedangkan perumusan strategi bersaing yang handal akan membicarakan perumusan kembali visi dan misi organisasi, pengungkit SDM, dan pembentukan kompetensi inti.

Menghadapi hal ini, organisasi dituntut untuk cepat tanggap (fast response) terhadap kondisi yang terjadi dan memiliki kemampuan untuk dapat menyesuaikan (adaptable) (Wortzel dan Wortzel, 1998). Organisasi masa depan adalah organisasi yang inovatif, adaptif, dan merespon dengan cepat perubahan yang terjadi (Chatell, 19965), sehingga organisasi akan mampu bertahan dan menang dalam persaingan. Disamping itu juga perusahaan dapat memegang kendali industrinya sendiri dan dapat menciptakan pasar di masa depan, kalau bisa lebih dulu tiba di masa depan (Hamel dan Prahalad, 1995), sehingga diperlukan pemimpin yang dapat meramu visi dan misinya, sumber daya manusianya, dan strategi bersaingnya untuk dapat menciptakan organisasi yang unggul. SDM dalam organisasi merupakan aset yang paling penting, karena salah satu tantangan kompetisi adalah modal intelektual. Pemimpin disini harus bisa merumuskan kompetensi inti dari intellectual capability (Urich, 1998).

Manajemen Perubahan
Adakalanya pemimpin harus menyiasati perubahan yang senantiasa berubah.



Rhenald Kasali Ph.D
Di dunia ini tidak ada sesuatu yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri




John F. Kennedy
Change is the law of life

Maksimisasi fungsi SDM dapat dilakukan dengan model pemberdayaan sesuai dengan gambar di bawah ini.



Secara singkat, gambar dibawah ini menjelaskan strategi bersaing untuk membantu mencapai organisasi yang unggul.



Kesimpulan:
Tantangan kompetitif seperti globalisasi, kreatif dan inovatifnya pesaing, teknologi semakin canggih, dan modal intelektual membuat para pemimpin perusahaan memikirkan kembali visi dan misi perusahaannya, kemampuan SDM-nya, dan membuat strategi yang handal agar tidak tertinggal atau bahkan hilang dari pasar persaingan.Peran pemimpin dapat diilustrasikan sebagai pengungkit sumber daya seperti batu yang kecil tapi memberikan kekuatan yang besar.

Labels:

Gap Analysis Minuman Sari Buah Buavita Produk PT. Uultrajaya Milk Industry Tbk

Wednesday, December 10, 2008 by Eko Wahyudiharto

1. Pendahuluan
Berawal dari sebuah perusahaan susu di tahun 1950-an, PT Ultrajaya telah berkembang dengan sangat pesat hingga mampu meraih posisi saat ini sebagai salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia untuk produk-produk susu dan jus buah. Kisah PT Ultrajaya diawali dari sebuah perusahaan susu yang kecil pada tahun 1958. Lalu pada tahun 1971, perusahaan ini memasuki tahap pertumbuhan sejalan dengan perubahannya menjadi PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company.

PT Ultrajaya saat ini merupakan perusahaan pertama dan terbesar di Indonesia yang menghasilkan produk-produk susu, minuman dan makanan dalam kemasan aseptik yang tahan lama dengan merek-merek terkenal seperti Ultra Milk untuk produk susu, Buavita untuk jus buah segar dan Teh Kotak untuk minuman teh segar.

Lokasi pabriknya terletak sangat strategis di pusat daerah pedalaman pertanian Bandung yang menyediakan sumberdaya alam yang melimpah, segar dan berkualitas, mulai dari susu segar, daun teh hingga buah-buahan tropis.

Pertumbuhan pesat tersebut diraih oleh adanya sebuah filosofi sederhana: "Sebuah tekad untuk memroduksi produk dalam kemasan berkualitas tinggi memenuhi kebutuhan konsumen Indonesia yang terus meningkat". Kesuksesan filosofi ini ditentukan pula oleh kemampuan perusahaan yang sudah terbukti dalam mencapai empat sasaran di masa lampau, dan akan terus diterapkan di masa mendatang.

Pertama, memastikan bahwa hanya bahan baku terbaik yang digunakan untuk proses produksi. Kedua, memproduksi jenis produk sebanyak mungkin untuk konsumen kami. Ketiga, PT Ultrajaya memiliki teknologi tepat yang membantu dalam pengembangan dan produksi beragam produk berkualitas. Dan akhirnya mengirimkan produk-produk ini ke seluruh konsumen Indonesia di mana pun mereka berada.

Tidak hanya bertekad penuh dalam melayani konsumen Indonesia, PT Ultrajaya pun bertekad menciptakan nilai lebih kepada para pemegang saham. PT Ultrajaya merasa bangga dengan posisinya sebagai pemimpin pasar, dan kemampuan mempertahankan pangsa pasar yang sangat tinggi. PT Ultrajaya juga giat mencari cara lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengintegrasikan keseluruhan proses produksi agar dapat memaksimalkan semua sumberdaya yang ada. Hal ini selanjutnya akan menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang tinggi.

Saat ini, 90 persen dari keseluruhan hasil produksi perusahaan ini dipasarkan di seluruh Indonesia, sementara sisanya diekspor ke negara-negara di Asia, Eropa, Timur Tengah, Australia dan Amerika Serikat. Baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor, produk-produk yang dijual adalah produk yang sejenis.

2. Ruang Lingkup Analisis Senjang
2.1. Lingkungan Konsumen
Dapatkah produk Buavita menjadi brand name dan dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat? Bagaimana pengaruh perkembangan perekonomian terhadap tingkat konsumsi Buavita?

2.2. Senjang Produk dan Kemasan
Perlukah diferensiasi produk lebih diintensifkan untuk variasi Buavita?

2.3. Kebijakan Distribusi Produk
Mampukah perusahaan meningkatkan distribusi penjualan mulai dari level pengecer terendah hingga tertinggi?

2.4. Etika Promosi
Sudah tepatkah jalur promosi yang diambil perusahaan sebagai media pemasaran dari produk Buavita?

2.5. Strategi Perusahaan Menghadapi Kompetitor
Bisakah mempertahankan posisi perusahaan dan loyalitas konsumen terhadap produk Buavita?

3. Gap Analysis
3.1. Lingkungan Konsumen
Pasar utama PT. Ultrajaya adalah Indonesia dengan populasi sebanyak kurang lebih 200 juta orang yang memiliki tingkat daya beli yang bergerak meningkat perlahan. Untuk kebutuhan pasar domestik, angka sekitar 90% telah ditetapkan dari total produksi perusahaan. 10% sisanya dijual ke negara-negara lain melalui mekanisme ekspor.

Walaupun demikian, tingkat konsumsi sari buah pada umumnya dan Buavita pada khususnya untuk rata-rata orang Indonesia masih dirasa kurang. Mayoritas, mind set publik terletak pada kebutuhan akan minuman sari buah yang masih kurang diminati dan termasuk dalam kategori sedikit "barang mewah". Masyarakat pada umumnya masih lebih memprioritaskan produk susu dibandingkan dengan produk minuman sari buah.

3.2. Senjang Produk dan Kemasan
Produk Buavita dari PT. Ultrajaya memiliki beberapa varian bentuk kemasan dan rasa yang berbeda sesuai dengan tabel berikut di bawah ini :



























































































No.
Rasa
125ml
200ml
250ml
1000ml
1 Apel + Aloe Vera
-
-
-
OK
2 Mangga
OK
OK
OK
OK
3 Jambu
OK
OK
OK
OK
4 Jeruk
OK
OK
OK
-
5 Jeruk Hi-Calcium
-
OK
OK
-
6 Jeruk Mandarin
-
OK
OK
-
7 Apel
OK
OK
OK
-
8 Leci
OK
OK
OK
-
9 Sirsak
OK
OK
OK
-
10 Strawberry (Mini)
OK
-
-
-


Dilihat dari data di atas, masih terdapat beberapa kesenjangan antara rasa dan ukuran kapasitas. Masih banyak rasa yang dapat di eksplor serta bahan kemasan yang dikembangkan selain dari yang ada saat ini. Kemasan yang berupa kotak (karton) untuk seluruh varian produk masih dinilai memiliki beberapa kekurangan yang salah satu diantaranya adalah nilai kepraktisan bagi konsumen.

3.3. Kebijakan Distribusi Produk
PT. Ultrajaya memiliki jaringan distribusi yang luas dan tersebar diseluruh Indonesia. Menurut data yang diambil dari situs web korporat PT. Ultrajaya (http://www.ultrajaya.co.id) setidaknya, pemasaran produk tersebut meliputi kurang lebih 2.500 grosir dan 25.000 toko ritel (termasuk toko modern dan tradisional, hotel serta pelanggan komersial). Dukungan pemasaran ini juga ditambah lagi dengan 300 tenaga penjual, 100 armada kendaraan serta 9 depo dan Kantor Cabang di kota besar plus distributor lokal.

Namun demikian, dapat disimpulkan bahwa tata kelola teknik marketing masih dirasa kurang fokus. Dominan, penjualan produk Buavita masih dikuasai toko modern seperti supermarket besar dan swalayan. Masih jarang ditemukan produk Buavita yang dijual pada toko tradisional atau yang yang lebih kecil lagi.

3.4. Etika Promosi
Salah satu faktor yang dianggap penting oleh PT. Ultrajaya dalam pemasaran produk Buavita adalah promosi. Buavita merupakan merk terkenal dan terbesar di kategori jus buah UHT (Ultra High Temperature) dalam kemasan di Indonesia. Walau telah didukung oleh mind set publik akan hal tersebut, fokus promosi masih harus lebih diintensifkan demi perluasan pangsa pasar.

Menurut pengamatan penulis, promosi produk Buavita di media cetak dan elektronik masih dinilai kurang. Investasi PT. Ultrajaya dalam beriklan produk Buavita dirasa masih "setengah hati". Hal ini dapat dilihat dari iklan pada stasiun televisi yang frekuensinya masih (sangat) jarang, terlebih pada jam prime time. Seringnya, prime time diisi oleh produk-produk consumers good dan produk barang mewah. Karena mereka lah yang mempunyai dana besar untuk menunjang biaya iklan mereka. Wajar saja mereka memiliki dana karena mereka adalah perusahaan yang pasarnya besar dan produknya luas dikonsumsi masyarakat. Bagaimana dengan Buavita?

3.5. Strategi Perusahaan Menghadapi Kompetitor
Sebagai pemimpin pasar, PT. Ultrajaya selalu berusaha untuk tetap berada di baris terdepan untuk kegiatan penelitian, pengembangan dan pengawasan mutu. Melalui penelitian yang berkesinambungan terhadap kebutuhan pasar dan perubahan permintaan konsumen, PT. Ultrajaya masih mengembangkan produk-produk baru yang mampu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar.

Meski begitu, PT. Ultrajaya tetap tidak dapat memperlambat laju akan masuknya produk-produk baru dari para pesaing terlebih lagi yang berasal dari luar negeri. Masih perlunya peningkatan pengawasan internal terhadap kompetitor dengan kualitas yang lebih baik yang beresiko menekan penjualan khususnya produk minuman sari buah Buavita.

4. Rekomendasi
4.1. Lingkungan Konsumen
Faktor konsumen yang memiliki dinamisitas yang tinggi memerlukan perhatian yang ekstra, terlebih bagi konsumen mayoritas Indonesia yang memiliki tingkat penghasilan yang minim dibalik perekonomian domestik yang masih belum stabil ini. Pada dasarnya, harga produk Buavita masih dinilai terjangkau bagi kalangan menengah kebawah (Rp.2000 / 250ml). Namun demikian, pola pikir akan kategori "sedikit barang mewah" harus diberantas melalui teknik segmentasi marketing yang tepat, untuk itu perlu adanya semacam edukasi melalui kegiatan sosial (CSR) ataupun promosi yang dapat lebih melekatkan image brand name Buavita ke khalayak ramai.

4.2. Senjang Produk dan Kemasan
Cita rasa produk Buavita yang ada cukup sesuai dengan lidah orang Indonesia dengan varian rasa yang tepat. Namun demikian masih diperlukan re-learn bagi peneliti di PT. Ultrajaya untuk mengembangkan sajian rasa buah-buahan yang baru, seperti misalnya rasa buah kelapa atau buah-buah lain yang memiliki rasa yang unik.

Selain itu, inovasi kemasan masih perlu dipertimbangkan. Kemasan botol dengan ukuran yang beragam dinilai masih memiliki faktor kepraktisan yang lebih dibandingkan dengan menggunakan kemasan kotak (karton). Dengan menggunakan kemasan botol, konsumen yang sedang berada pada saat bepergian tidak perlu direpotkan untuk harus menghabiskan isinya dan dapat langsung menutup botol agar dapat diminum lagi di waktu-waktu dekat berikutnya.

4.3. Kebijakan Distribusi Produk
Tidak dapat dipungkiri bahwa promosi untuk produk Buavita masih dirasa kurang. Hal ini dapat dibuktikan melalui riset opini publik yang tertuang dalam salah satu situs web yang mengulas mengenai produk yang ada (http://www.pintunet.com/produk.php? vproduk_id= mringan_af11&vpid=8802040101)



Kebijakan distribusi produk kurang meluas pada segmentasi wilayah yang tersebar. Diperlukan adanya strategi khusus guna menutupi target-target pasar mikro hingga lebih terjangkau ke tingkat konsumen terkecil (rumahan).

4.4. Etika Promosi
Sarana promosi adalah jalur terefektif teknik marketing. Namun demikian, produk Buavita membutuhkan sentuhan edukasi bagi para konsumen yang dinilai masih kurang pemahamannya mengenai pentingnya sari buah bagi kesehatan. Selain itu, diperlukan investasi lebih untuk melakukan serangkaian kegiatan promosi bagi di media cetak, elektronik maupun jalur pemasaran yang tepat yang dirasa masih minim.

4.5. Strategi Perusahaan Menghadapi Kompetitor
Sebagai pemimpin pasar di kategori minuman sari buah murah yang masih terjangkau ini, sudah waktunya Buavita lebih mengintensifkan penjualan ke luar negeri, minimal dengan perbandingan 10% lebih tinggi lagi dari estimasi 10% yang ada saat ini. Prestise melalui teknik ini akan berdampak positif bagi kemajuan perusahaan dan kompetitor tidak akan memandang sebelah mata bagi produk Buavita.



Kajian marketing mix (bauran pemasaran) dan konsep STP (Segmentation, Targeting & Positioning) juga diharapkan memberikan barrier ekstra untuk pesaing yang bermunculan.

Labels:

Paradigma Baru Menjual

Tuesday, December 9, 2008 by Eko Wahyudiharto

Jurus paradigma baru menjual yang dilontarkan oleh S. Budisuharto melalui artikel tersebut sangat menjanjikan bagi penjual dalam mendapatkan peluang pasar. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan munculnya ancaman baru yang tentu saja harus dikaji lebih mendalam. Menurut saya, keberhasilan pemasaran bergantung pada kemampuan manajemen dalam menganalisis dan memanfaatkan berbagai variabel yang dimilikinya serta merancang secara strategis program-program pemasaran dalam kerangka lingkungan yang dihadapi perusahaan dan kemudian menjalankan rencana tersebut.

Saya masih memandang bahwa senjata yang paling dahsyat dalam strategi pemasaran salah satunya adalah melalui komunikasi pemasaran (marketing communication) untuk memperkuat brand image dengan target audience yang luas, sehingga dalam waktu yang relatif singkat, penyampaian pesan tentang brand akan lebih cepat sampai.

Namun demikian, tidak sedikit penggiat usaha yang belum menyadari bahwa membangun brand image dengan komunikasi pemasaran tidak hanya sebatas melalui iklan dan promosi saja. Ada banyak kegiatan lain yang juga berdampak besar, contohnya adalah sebagai berikut:
1. Disain kemasan, termasuk isi tulisan/pesan yang disampaikan
2. Corporate Social Responsibility (CSR) yaitu kegiatan-kegiatan sosial untuk komunitas yang dilakukan oleh perusahaan
3. Customer Services, bagaimana perusahaan menangani keluhan, masukan dari konsumen setelah terjadi transaksi
4. Bagaimana karyawan yang bekerja di lini depan/front liners (apakah itu bagian penjualan, kasir, resepsionis, dll) yang bersikap dalam menghadapi pelanggan,
5. dll

Jenis tipe komunikasi dalam daftar di atas adalah kegiatan-kegiatan yang baik buruknya tergantung dari keinginan perusahaan yang kesemuanya dapat dikontrol/dikendalikan. Komplikasi justru akan muncul dari kegiatan-kegiatan komunikasi seputar brand oleh pihak lain yang tidak dapat dikontrol oleh perusahaan, misalnya komunikasi oleh konsumen langsung. Mereka bisa menyebarkan pada network-nya berita kurang menyenangkan yang mereka alami pada saat berinteraksi dengan brand (yang diwakili oleh banyak hal, termasuk front liners di perusahaan). Word-of-mouth communication adalah salah satu jenis komunikasi yang sangat efektif, dan berbahaya apabila itu menyangkut publisitas buruk.

Komplikasinya ditambah dengan keberadaan Internet dengan kecepatan penyebaran beritanya yang bahkan bisa berlipat-lipat. Siapa saja (termasuk pesaing) bisa menuliskan pengalaman berinteraksi dengan brand dari sudut perspektif mana saja (seperti pemberitaan buruk mengenai kepuasan produk, harga atau kegagalan distribusi), tanpa bisa diatur-atur seperti halnya berhubungan dengan media tradisional.

Jadi, pada dasarnya perusahaan perlu memperhatikan semua elemen komunikasi dalam bentuk apapun yang menghubungkan konsumen dengan brand perusahaan. Meminimalkan kemungkinan terjadinya ketidakpuasan konsumen, dapat mempertahankan pemberitaan baik seputar brand.

Labels:

about


A little something about me, the author. Nothing lengthy, just an overview.

Also a link to my profile may show up here.

Dominant Traits Johari Window

66% of people think that Eko Wahyudiharto is clever
66% of people think that Eko Wahyudiharto is friendly
66% of people agree that Eko Wahyudiharto is idealistic

All Percentages

able (0%) accepting (0%) adaptable (0%) bold (0%) brave (0%) calm (33%) caring (0%) cheerful (0%) clever (66%) complex (0%) confident (0%) dependable (0%) dignified (0%) energetic (0%) extroverted (0%) friendly (66%) giving (0%) happy (0%) helpful (0%) idealistic (66%) independent (33%) ingenious (0%) intelligent (33%) introverted (0%) kind (33%) knowledgeable (33%) logical (33%) loving (33%) mature (0%) modest (0%) nervous (0%) observant (0%) organised (0%) patient (33%) powerful (0%) proud (0%) quiet (0%) reflective (0%) relaxed (0%) religious (0%) responsive (33%) searching (0%) self-assertive (0%) self-conscious (0%) sensible (33%) sentimental (0%) shy (33%) silly (0%) spontaneous (0%) sympathetic (0%) tense (0%) trustworthy (0%) warm (0%) wise (0%) witty (0%)

search

recent posts

recent comments

labels

archives

links

statistic

admin