Manajemen Stress untuk Karyawan Pra Purna Karya
DEFINISI PENSIUNAsosiasi kata yang timbul ketika orang mendengar kata pensiun adalah kesepian, kesendirian, kehilangan jabatan, tidak dihormati, tak berdaya dan mulai timbulnya berbagai gejala distress. Akronim MPP adalah Mati Pelan-Pelan. Reaksi-reaksi yang bersikap positif menunjukkan bahwa masa pensiun adalah masa kebebasan karena lepas tanggung jawab, masa-masa bulan madu kedua & masa-masa lebih dekat dengan anak cucu.
Purna karya merupakan bentuk dari perubahan yang dapat menyebabkan kegoncangan emosional apabila tidak dipersiapkan (perubahan yang bersifat off time), di sisi lain perubahan yang on time akan mengurangi kegoncangan.
REAKSI PENSIUN
Reaksi terhadap pensiun pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu reaksi positif dan negatif.
Macam Reaksi | Hornstein & Warner | Reichard, Livson & Peterson | Ahli Lain |
| Reaksi Positif | Dianggap: Masa Transisi, Permulaan yang baru atau Karir Lanjutan | Kelompok: Mature, Rocking Chairman, Armored | Perilaku: Normal |
| Reaksi Negatif | Dianggap: Kekacauan | Kelompok: Angry men, Self haters | Perilaku: Goncang, Kompensasi berlebihan |
TIPS PENYESUAIAN MENGHADAPI PENSIUN
1. Makna Kerja
Penyesuaian terhadap masa purna karya juga tergantung pada sebagian besar hirarki tujuan personal . Jika suatu pekerjaan bukan termasuk dalam kategori prioritas yang tinggi, maka tidak ada perusahaan serius dalam tujuan personal para pensiunan tersebut. Sebaliknya, jika pekerjaan mempunyai makna yang tinggi, maka mencari pekerjaan adalah sebagai alternatifnya atau mencari aktivitas pengganti lainnya. Jika aktivitas pengganti ini tidak dapat diterima atau ditemukan, maka mereka akan kurang melibatkan diri pada aktivitas kehidupan sehari-hari atau mereka menarik diri atau menunjukkan gejala-gejala post power syndrome.
2. Aktivitas Sosial
Studi yang dilakukan oleh Hooker & Ventis pada 34 pria dan 42 wanita yang mempunyai rentang usia 53 – 68 tahun secara proporsional dipengaruhi jumlah aktivitas yang dilakukan. Lebih lanjut dikatakan bahwa jika aktivitas tersebut dirasakan oleh pensiunan sebagai sesuatu yang bermanfaat maka perasaan terhadap kepuasan semakin meningkat. Hal ini mendukung teori kesuksesan dari Ekerd yaitu busy ethic yang menyatakan bahwa dalam masa pensiun, individu harus mentransfer dari etik kerja ke dalam aktivitas yang bermakna. Aktivitas yang paling umum dilakukan adalah memberikan layanan masyarakat, meningkatkan dan mengembangkan keterampilan, hobi yang mendatangkan keuntungan dan bergerak di dunia pendidikan.
3. Gaya Hidup
Orang yang merasa mampu melakukan kontrol terhadap masa pensiun akan merasa bahagia3. Dalam hal ini, perubahan gaya hidup merupakan alternatif yang tidak bisa ditawar-tawar kembali, terutama bagaimana memberikan informasi awal bagi anak-anak dan membuat kebiasaan-kebiasaan baru yang selama ini terlanjur dilakukan.
4. Pengelolaan Keuangan
Kecemasan yang besar salah satu sumber yang dirasakan para karyawan yang akan pensiun adalah berkurangnya penghasilan. Terutama selisih pendapatan yang diterima secara signifikan antara bekerja dengan pensiun, hal ini terjadi pada pegawai negeri dan BUMN. Masalah kesenjangan yang cukup tajam ini sangat berkaitan dengan gaya hidup yang sekarang digunakan. Ada 2 kemungkinan yang bisa dilakukan, yaitu pertama; mengubah dan melakukan restrukturisasi gaya hidup. Dalam hal ini, pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip kebutuhan (need) dan bukannya keinginan (want) atau didasarkan pada prinsip rasionalitas & urgensi. Kedua, jika mengubah gaya hidup tidak mungkin dilakukan, maka penambahan penghasilan menjadi alternatifnya. Apakah bekerja kembali pada perusahaan atau menjadi wirausaha.
5. Kesehatan
Sebenarnya tidak ada hubungan langsung antara pensiun dengan sakit tetapi ada beberapa orang yang mengalami retirement shock, yaitu mereka yang setelah pensiun kemudian meninggal dunia. Masalah kesehatan menjadi masalah yang membuat cemas para karyawan yang akan pensiun. Tidak setiap perusahaan memberikan jaminan kesehatan di hari tua, padahal semakin tua probabilitas sakit semakin besar. Teori aktivitas menyatakan bahwa pada dasarnya tidak ada perubahan antara masa dewasa dengan masa lanjut usia. Aktivitas yang dilakukan orang lanjut usia justru akan semakin mempertahankan kondisi fisik dan psikis semakin prima. Karenanya, prilaku sehat merupakan salah satu alaternatif yang dapat dibiasakan.
6. Religiusitas
Pandangan masyarakat timur terhadap masa pensiun merupakan masa untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Sebagian pensiunan yang religius meyakini bahwa cara yang ampuh dalam mengelola stres adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.
7. Berpikir Positif dan Optimis
Jika masa pensiun dipandang sebagai masa yang wajar yang harus dilewati, maka reaksi yang timbul adalah wajar-wajar saja. Orang yang distress, pada dasarnya disebabkan karena mereka berpikir negatif dan ada kesalahan dalam proses berpikir.
KESIMPULAN
Perubahan, gejolak dan ancaman selalu melanda dalam kehidupan manusia. Namun demikian, manusia dengan segala kelebihannya dapat mengantisipasi dan tidak akan tergilas oleh roda perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, memasuki masa pensiun, memang dibutuhkan stress, agar orang merasa lebih siap menghadapi masa-masa itu. Asalkan stress tidak berubah menjadi distress yang akan menggilas manusia menjadi tidak berdaya. Apa yang dinikmati dan dirasakan selama ini adalah titipan anak cucu dan sewajarnya diberikan kembali kepadanya. Hari-hari yang akan datang adalah hari-hari indah yang lebih diisi sesuai dengan kehendak hati apakah pensiun sebagai masa transisi, sebagai karir lanjutan atau sebagai masa permulaan kehidupan yang baru.
Labels: Manajemen SDM


